Rabu, 30 Maret 2016

Tata Cara Sholat Khusuf (gerhana)



Tata Cara Sholat Khusuf (gerhana)
Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba'du:
Telah dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tentang sholat Khusuf (sholat yang dikerjakan karena ada gerhana bulan atau matahari.pent), yang menunjukan bahwa sholat tersebut adalah disyari'atkan. Yaitu sebuah hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menceritakan pada kita:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الْأُولَى ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Pernah pada masa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam terjadi gerhana Matahari, maka Rasulallah mengerjakan sholat bersama kaum muslimin. Beliau mengerjakan sholat tersebut dengan berdiri yang sangat lama kemudian beliau ruku' dengan ruku' yang sangat lama, lalu bangun dari ruku' dan berdiri dengan berdiri yang sangat lama, dan ini bukan berdirinya beliau yang pertama. Selanjutnya beliau ruku' dan ini bukan ruku'nya yang pertama.  Kemudian beliau sujud dengan sujud yang sangat lama, lalu beliau mengerjakan sama seperti apa yang dikerjakan pada raka'at yang pertama. Setelah itu beliau keluar dan tidaklah beliau selesai sholat melainkan matahari sudah terlihat jelas. Maka beliau berkhutbah dihadapan kaum muslimin dengan  memuji dan menyanjung Allah Shubhanahu wa ta’alla, kemudian bersabda:
"Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah. Tidaklah keduanya terkena gerhana disebabkan kematian seseorang tidak pula karena hidupnya, maka, apabila kalian melihat hal tersebut (terjadi gerhana) maka berdo'alah kepada Allah, bertakbir, kerjakan sholat dan bersedekahlah". Selanjutnya beliau mengatakan: "Wahai umat Muhammad, demi Allah tidak ada seorangpun yang lebih cemburu dari pada Allah, dibanding kalian manakala budak laki-laki atau perempuannya berzina. Wahai umat Muhammad, demi Allah, kalau sekiranya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis". HR Bukhair no: 1044. Muslim no: 901.

Dalam redaksinya Imam Muslim, dijelaskan beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَإِنَّهُمَا لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ - وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِمَوْتِ بَشَرٍ - فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَصَلُّوا حَتَّى تَنْجَلِىَ مَا مِنْ شَىْءٍ تُوعَدُونَهُ إِلاَّ قَدْ رَأَيْتُهُ فِى صَلاَتِى هَذِهِ لَقَدْ جِىءَ بِالنَّارِ وَذَلِكُمْ حِينَ رَأَيْتُمُونِى تَأَخَّرْتُ مَخَافَةَ أَنْ يُصِيبَنِى مِنْ لَفْحِهَا وَحَتَّى رَأَيْتُ فِيهَا صَاحِبَ الْمِحْجَنِ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِى النَّارِ كَانَ يَسْرِقُ الْحَاجَّ بِمِحْجَنِهِ فَإِنْ فُطِنَ لَهُ قَالَ إِنَّمَا تَعَلَّقَ بِمِحْجَنِى. وَإِنْ غُفِلَ عَنْهُ ذَهَبَ بِهِ وَحَتَّى رَأَيْتُ فِيهَا صَاحِبَةَ الْهِرَّةِ الَّتِى رَبَطَتْهَا فَلَمْ تُطْعِمْهَا وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ حَتَّى مَاتَتْ جُوعًا ثُمَّ جِىءَ بِالْجَنَّةِ وَذَلِكُمْ حِينَ رَأَيْتُمُونِى تَقَدَّمْتُ حَتَّى قُمْتُ فِى مَقَامِى وَلَقَدْ مَدَدْتُ يَدِى وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أَتَنَاوَلَ مِنْ ثَمَرِهَا لِتَنْظُرُوا إِلَيْهِ ثُمَّ بَدَا لِى أَنْ لاَ أَفْعَلَ فَمَا مِنْ شَىْءٍ تُوعَدُونَهُ إِلاَّ قَدْ رَأَيْتُهُ فِى صَلاَتِى هَذِهِ » [أخرجه مسلم]
"Wahai manusia, Matahari dan Bulan hanyalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan sesungguhnya keduanya tidak tertutupi (terjadi gerhana) disebabkan kematian seseorang dari manusia". -Abu Bakar mengatakan: "Karena kematian seseorang"-. Dan apabila kalian melihat sedikit akan hal tersebut maka kerjakanlah sholat hingga sinarnya menjadi terang kembali. Tidak ada suatu perkarapun yang telah dijanjikan atas kalian oleh Allah melainkan sungguh aku telah melihatnya dalam sholatku ini. Telah dinampakan padaku neraka, itulah tatkala kalian melihat diriku mundur sedikit kebelakang, disebabkan aku merasa takut sambaran apinya menimpaku. Hingga aku dapat melihat didalam neraka tersebut seseorang yang memegang tongkat dengan ususnya yang terurai. Disebabkan karena dirinya mencuri para jama'ah haji dengan tongkatnya tersebut. Bila dirinya ingat dia berpegangan pada tongkatnya, jika lupa maka dia berjalan sambil membawanya. Demikian pula aku melihat wanita pemilik kucing yang (dahulu ketika didunia) mengikat dan tidak memberi makan sedikitpun. Wanita tersebut tidak melepasnya, sehingga kucing tersebut memakan serangga tanah, hingga akhirnya mati. Kemudian diperlihatkan padaku surga, yaitu manakala kalian melihatku maju sedikit ke depan hingga aku tetap ditempat berdiriku tadi, sembari aku bentangkan kedua tanganku, karena aku ingin mengambil buah-buahannya untuk aku perlihatkan kepada kalian, akan tetapi, kemudian aku sadar supaya tidak melakukan hal tersebut. Tidaklah ada suatu perkara pun yang telah dijanjikan oleh Allah atas kalian melainkan aku telah melihatnya dalam sholatku tadi". HR Muslim no: 904.

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan dalam salah satu khutbahnya: "Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua ayat dari tanda-tanda kebesaran Allah Shubhanahu wa ta’alla. Makhluk dari makhluk-makhluk -Nya. Keduanya bisa menampakan jelas sinarnya dan bisa tertutupi dengan perintah dan rahmat Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sehingga apabila -Dia berkehendak ingin membikin takut para hamba -Nya dengan suatu adzab karena perbuatan maksiat dan menyelisihi syari'at yang mereka lakukaan, maka, Allah Shubhanahu wa ta’alla menutupi keduanya dengan menyembunyikan cahaya secara total atau sebagiannya, sebagai bentuk peringatan atas para hamba -Nya, mudah-mudahan dengan itu mereka akan bersegera untuk bertaubat dan mengerjakan perkara yang menjadi kewajibannya dari perintah-perintah Rabbnya, dan menjauhi segala perkara-perkara yang dilarang atas mereka, dari larangan-larangan Allah ta'ala.
Oleh sebab itu, bila kita perhatikan gerhana lebih banyak terjadi pada zaman-zaman ini, dimana tidaklah sampai genap satu tahun melainkan telah terjadi gerhana baik gerhana Matahari maupun Bulan atau gerhana keduanya. Hal itu, dikarenakan banyaknya perbuatan maksiat dan fitnah yang terjadi pada saat ini. Sungguh kalau kita saksikan, ada begitu banyak manusia yang tenggelam dalam syahwat dunia, dan melalaikan keadaan yang akan terjadi kelak pada hari kiamat, dengan berlebihan dalam memanjakan kelezatan badan dan tubuh mereka, menggadaikan perkara agamanya, dan mementingkan pada urusan harta benda yang bisa dirasakan saja. Lalu berpaling dari urusan ghoib yang telah dijanjikan yang merupakan perjalanan pasti dan puncak dari segalanya. Sehingga Allah ta'ala mencela orang-orang seperti dalam firman -Nya:

  ﴿ فَوَيۡلٞ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن يَوۡمِهِمُ ٱلَّذِي يُوعَدُونَ ٦٠﴾ [ الذريات: 60 ]
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang diancamkan kepada mereka".  (QS adz-Dzariyaat: 60).

Sungguh kebanyakan dari penghuni muka bumi pada masa ini sangatlah menyepelekan perkara gerhana ini, mereka tidak menjadikan perkaranya bernilai sedikitpun, tidak tergerak hati yang tertutupi. Dan itu semua tidaklah diperoleh melainkan disebabkan lemahnya iman. Dan jahilnya mereka terhadap perkara yang diajarkan oleh Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam, dan hanya menyandarkan gerhana ini pada ilmu yang berkaitan dengan kejadian alam biasa. Dan melalaikan sebab-sebab yang berkaitan dengan syari'at. Serta hikmah agung yang tersimpan, yang dengannya Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan adanya gerhana dengan menggandeng kejadian alam biasa.
Gerhana itu mempunyai sebab-sebab alam, sebagaimana telah ditetapkan baik oleh orang-orang mukmin maupun kafir. Begitu pula, gerhana juga punya sebab-sebab syar'iyah yang hanya ditetapkan oleh orang-orang beriman dan diingkari oleh orang-orang kafir, serta dilalaikan oleh orang-orang yang lemah imannya. Yang tidak mengerjakan titah yang diperintahkan pada mereka oleh Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam tatkala terjadi gerhana, mulai dari ketakutan dan bersegera untuk sholat, berdzikir, berdo'a dan meminta ampun kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, bersedekah dan membebaskan budak". [1]

Perkara yang dianjurkan tatkala terjadi gerhana, baik bulan atau matahari:
1.         Sholat.
Yakni dengan mengerjakan sholat sesuai dengan tata cara yang telah disebutkan dalam haditsnya Aisyah dimuka. Hal ini, berdasarkan perintah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَصَلُّوا حَتَّى تَنْجَلِىَ » [أخرجه مسلم]
"Maka apabila kalian melihat sedikit dari hal tersebut, kerjakanlah sholat sampai kiranya sinarnya menjadi terang kembali". HR Muslim no: 907.
Dan sunahnya adalah memanjangkan bacaan didalam sholat tersebut. Dimana bacaan yang beliau baca pada raka'at pertama itu kurang lebih sama dengan surat al-Baqarah. Dan pada raka'at kedua sama dengan bacaan surat al-Imran. Dalam hal ini, Asma binti Abi Bakar mengkisahkan pada kita sholatnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan: "Maka Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam lama sekali didalam berdirinya sampai akhirnya sinar matahari mengenaiku". HR Bukhari no: 86. Muslim no: 905. Begitu pula dalam ruku' dan sujud, lamanya juga hampir sama dengan bacaan ketika berdiri. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau menceritakan: "Belum pernah sama sekali sebelum peristiwa itu aku melakukan ruku', tidak pula sujud yang lebih lama dari pada ketika itu". HR Bukhari no: 1045. Muslim no: 910.

2.         Berdzikir, berdo'a dan meminta ampun pada Allah azza wa jalla.
Berdasarkan sabdanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari haditsnya Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata: "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Apabila kalian melihat sedikit dari hal itu, maka bersegeralah kalian berdzikir, berdo'a dan meminta ampun kepada Allah ta'ala". HR Bukhari no: 1059. Muslim no: 912.

Dalam salah satu redaksi beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَاذْكُرُوا اللَّهَ حَتَّى يَنْجَلِيَا » [أخرجه مسلم]
"Hendaknya kalian berdzikir sampai sekiranya sinar keduanya menjadi terang kembali".  HR Muslim no: 901.
Masih dalam riwayat Bukhari dan Muslim dibawakan sebuah hadits dari Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Apabila kalian melihat salah satu dari keduanya (terjadi gerhana) maka berdo'alah kepada Allah, dan kerjakanlah sholat sampai gerhananya hilang". HR Bukhari no: 1043. Muslim no: 915.

3.         Bersedekah dan membebaskan budak.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab shahihnya sebuah hadits dari Asma radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membebaskan budak pada saat terjadi gerhana matahari". HR Bukhari no: 1054. Dalam hadits lain yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau mengatakan: "Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidaklah tertutupi  (sinarnya) karena kematian seseorang tidak pula karena hidupnya seseorang. Maka, apabila kalian melihat hal tersebut (terjadi gerhana) maka segeralah kalian bertakbir, berdo'a kepada Allah dan mengerjakan sholat dan bersedekah". HR Bukhari no: 1044. Muslim no: 901.

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.



[1] . Dhiya'ul Laami' minal Khutab al-Jawami' hal: 270-271. Secara ringkas.
 

Ragam dan Jenis Kekufuran



Ragam dan Jenis Kekufuran
Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba'du:
Di antara perkara terbesar yang diperintahkan oleh Allah tabaraka wa ta'ala ialah perkara tauhid, mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla. Dan kebalikannya, perkara terbesar yang dilarang oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah perbuatan syirik, menyekutukan –Nya dan kekufuran. Dua perkara ini, yakni perintah mentauhidkan Allah Shubhanahu wa ta’alla serta tidak menyekutukan -Nya, telah banyak disebutkan oleh Allah dalam firman -Nya, diantaranya:
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". (QS an-Nahl: 36).
Demikian pula tersirat jelas dalam firman -Nya:

﴿ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٢٥٦ [ البقرة: 256]
"Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada ikatan tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui".  (QS al-Baqarah: 256).

Inti pembahasan:
Kekufuran (kekafiran) adalah lawan dari keimanan, dan yang dimaksud ialah mengingkari adanya agama yang benar. Dinamakan kufur (kafir) karena didalam kekufuran ini terkandung bentuk menutupi kebenaran dibarengi pengingkaran terhadap kebenaran tersebut. Dan kufur itu ada dua macam: Kufur akbar (kekufuran besar) yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Kufur ashgar (kekufuran kecil) yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama. Dan kufur akbar ini beragam macam dan bentuknya, diantaranya ialah:

1.         Kufur dalam kisaran mendustakan.
Sehingga barangsiapa yang mendustakan al-Qur'an atau sedikit saja dari al-Qur'an. Atau mendustakan sunah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam yang telah shahih penukilannya sedang dirinya telah mengetahui akan hal itu. Maka orang semacam ini adalah kafir, karena masuk dalam kawasan kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya keluar dari agama Islam. Sehingga status darah dan hartanya menjadi halal. Dalil yang mendasari dan menjelaskan akan hal tersebut ialah firman Allah tabaraka wa ta'ala dalam sebuah firman -Nya:
﴿ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُۥٓۚ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡكَٰفِرِينَ ٦٨ [ العنكبوت: 68]
"Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haik tatkala yang haik itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?  (QS al-'Ankabuut: 68).

Dan Allah ta'ala telah menjelaskan dalam kitab -Nya sebab kebinasaan umat-umat terdahulu adalah dengan sebab karena mereka mendustakan Rasul yang diutus oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada mereka. Seperti disinggung oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam banyak ayat -Nya, diantaranya:

﴿ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٠٥ [ الشعراء: 105]
"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul". (QS asy-Syu'araa': 105).

Tentang kaum Aad, mereka binasa juga gara-gara mendustakan para Rasul, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan hal tersebut dalam firman -Nya:
﴿ كَذَّبَتۡ عَادٌ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٢٣ [ الشعراء: 123]
"Kaum 'Aad telah mendustakan para rasul". (QS asy-Syu'araa': 123).
Tentang kaum Tsamud juga sama, kebinasaan mereka dengan sebab mendustakan para Rasul, sebagaimana diterangkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya:
﴿ كَذَّبَتۡ ثَمُودُ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ١٤١   [الشعراء: 141]
"Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul".  (QS asy-Syu'araa': 141).

Dan barangsiapa mendustakan satu Rasul saja maka dirinya sama dengan mendustakan seluruh Rasul. Dan tidak mungkin keimanan mereka bisa diterima sampai kiranya dia mengimani seluruh Rasul dengan tidak menbeda-bedakan satu sama lainnya. Hal itu, sebagaimana ditegaskan oleh Allah ta'ala dalam firman -Nya:
﴿ ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ٢٨٥ [ البقرة: 285]
"Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat -Nya, kitab-kitab -Nya dan rasul-rasul -Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul -Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (QS al-Baqarah: 285).

2.         Kufur Juhud (Pengingkaran).[1]
Yang mana orang kafir jenis ini mempunyai maklumat tentang kebenaran serta meyakininya, akan tetapi, dirinya mengingkarinya secara terang-terangan, bisa karena faktor sombong, atau dengki, atau rakus terhadap kekuasaan, dunia atau ambisi yang lainnya.
Jenis kekafiran ini, secara umum ada dikebanyakan orang-orang kafir. Seperti disindir oleh Allah ta'ala melalui firman          -Nya:
﴿ قَدۡ نَعۡلَمُ إِنَّهُۥ لَيَحۡزُنُكَ ٱلَّذِي يَقُولُونَۖ فَإِنَّهُمۡ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ ٣٣ [ الأنعام: 33]
"Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah".  (QS al-An'am: 33).

Begitu pula, telah dijelaskan oleh Allah tabaraka wa ta'ala dalam firman -Nya:
﴿ وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗاۚ ١٤ [ النمل: 14]
"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya".  (QS an-Naml: 14).

Allah Shubhanahu wa ta’ala mengabarkan pada kita dalam ayat diatas, bahwa mereka menyakini kebenaran dalam hatinya, namun, mereka mengingkarinya karena zalim dan sombong, yakni disebabkan karena kesombongan serta kezalimananya terhadap orang lain.
Dalam hal itu, ada contoh nyata yang Allah Shubhanahu wa ta’alla abadikan dalam kitab -Nya, yaitu tatkala Nabi Musa 'alaihi sallam kemukakan kebenaran dihadapan Fir'aun, akan tetapi, dengan kecongkakannya dia enggan menerima kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa 'alaihi sallam, hal tersebut sebagaimana diabadikan oleh Allah ta'ala dalam firman -Nya:
﴿ قَالَ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُورٗا ١٠٢ [ الإسراء: 102]
"Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan Sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa".  (QS al-Israa': 102).

Maka, pada sejatinya Fir'aun mengetahui kalau yang dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihissalam adalah kebenaran, akan tetapi, dirinya terang-terangan mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan serta ambisinya agar tetap berada dalam singgasananya. Lebih jelas lagi, sebagaimana Allah Shubhanahu wa ta’alla abadikan itu semua melalui firman -Nya, sebagai pelajaran bagi kita semua, bagaimana kesombongan Fir'aun serta ambisinya terhadap kekuasaan:
﴿ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرِي  ٣٨        [ القصص: 38]
"Dan Fir'aun berkata: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku". (QS al-Qashash: 38).

Tiap orang yang masih punya akal sehat, tentu mereka semua mengakui serta menetapkan adanya makhluk dimuka bumi ini pasti ada pencipta yang mengaturnya. Sedangkan Fir'aun, maka dia sama sekali tidak pernah menciptakan sesuatu pun, dan tidak pula mengatur urusan makhluk sedikitpun. Akan tetapi, yang menyebabkan Fir'aun mengucapkan hal tersebut ialah karena sombong dan ingin tetap berada didalam kekuasaannya.
Dan semisal dalam hal ini, apa yang diperoleh dan dilakukan oleh Iblis laknatullah, manakala Allah Shubhanahu wa ta’alla menyuruhnya supaya sujud kepada Adam, namun, dirinya enggan disebabkan kesombongan dan dengki terhadap Adam. Dan hal itu, telah dijelaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya:
﴿ وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٣٤ [ البقرة: 34]
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan sombong dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir".  (QS al-Baqarah: 34).

3.         Kufur karena ragu dan dhon (persangkaan).
Yakni pelakunya merasa ragu terhadap perkara yang dibawa oleh para Rasul serta mengira kalau mereka itu bukan berada dijalan yang benar. Lebih jelasnya, sebagaimana kisahnya dua orang yang disitir oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya, dimana salah seorang dari keduanya mengatakan:
﴿ وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةٗ ٣٦   [ الكهف: 36]
"Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang". (QS al-Kahfi: 36).

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla kisahkan kembali jawaban temannya tadi yang mengatakan:
﴿ قَالَ لَهُۥ صَاحِبُهُۥ وَهُوَ يُحَاوِرُهُۥٓ أَكَفَرۡتَ بِٱلَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ سَوَّىٰكَ رَجُلٗا ٣٧   [ الكهف: 37]
"Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?".  (QS al-Kahfi: 37).

4.         Kufur I'radh (berpaling).
Yang dimaksud dengan berpaling dari sini ialah enggan untuk mempelajari ilmu-ilmu pokok agama yang menjadi dasar seseorang menjadi seorang muslim, hingga dirinya mau mengkaji lalu mengamalkannya. Perkaranya sudah jelas, sebagaimana disinggung oleh Allah ta'ala melalui firman -Nya:
﴿ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِۦ ثُمَّ أَعۡرَضَ عَنۡهَآۚ إِنَّا مِنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُنتَقِمُونَ ٢٢ [ السجدة: 22]
"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling dari padanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa". (QS as-Sajdah: 22).

Dan diperjelas lagi oleh Allah ta'ala melalui firman -Nya yang lain:
﴿ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَمَّآ أُنذِرُواْ مُعۡرِضُونَ ٣ [ الأحقاف: 3]
"Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka". (QS al-Ahqaf: 3).

Mereka dinamakan sebagai orang-orang kafir disebabkan karena mereka berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.

5.         Kufur Nifaq (kemunafikan), adapun yang dimaksud ialah munafik I'tiqodi (keyakinan). Dan dalam kategori ini ada enam macam bentuknya:
a)          Mendustakan Rasulallah Shalallahu ‘alihi wa sallam.
b)         Mendustakan sebagian apa yang dibawa oleh beliau.
c)          Membenci Rasulallah Shalallahu ‘alihi wa sallam.
d)    Membenci sebagian yang bawa oleh beliau Shalallahu ‘alihi wa sallam.
e)    Merasa senang bila agama Islam itu semakin terkoyak-koyak dan lemah.
f)      Tidak mau atau enggan untuk membela agama Rasulallah Shalallahu ‘alihi wa sallam.
Inilah yang dinamakan sebagai orang munafik, yang mana dalam hal ini dia menampakan keimanan dan menyembunyikan kekafirannya. Adapun keimanan yang nampak dari mereka, maka mereka bersaksi dengan persaksian yang benar, turut bersama kegiatan yang dikerjakan oleh kaum muslimin, dengan mengerjakan sholat, berpuasa, haji, dan berjihad. Dan secara umum mereka ikut serta bersama kaum muslimin didalam syi'ar-syi'ar agama Islam yang nampak jelas, sebagaimana keadaan dan jati diri orang-orang munafik pada zaman Nabi Muhammad  Shalallahu ‘alihi wa sallam. Namun, pada setiap zaman kebenaran itu selalu saja ditolong oleh Allah azza wa jalla.
Sedangkan kekufurannya secara bathin, maka dia sembunyikan didalam hatinya, mendustakan kebenaran, serta menutupi rapat-rapat kebenciannya terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rasul -Nya dan kaum muslimin secara umum. Sebagaimana digambarkan oleh Allah ta'ala dengan jelas sekali melalui firman -Nya:

﴿ إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ ١ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٢ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ ٣ [ المنافقون: 1-3]
"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul -Nya dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti".  (QS al-Munafiquun: 1-3).

 Artinya mereka mengatakan beriman dengan lisan-lisannya, namun, mengingkari dalam hatinya. Orang munafik hanya sekedar menampakkan keimanan secara nifak, hal tersebut ia lakukan agar bisa tetap hidup berdampingan bersama kaum muslimin, disebabkan dirinya tidak punya kekuataan untuk menghadapi kaum muslimin, begitu pula tidak mampu memporak porandakan kaum muslimin sehingga mengantarkan dirinya rela untuk bersikap mendua seperti itu.

6.         Kufur Asghar (kecil).
Yaitu mendatangi perbuatan dosa yang telah diberi stempel oleh Rasulallah Shalallahu ‘alihi wa sallam sebagai kekufuran, akan tetapi, tidak sampai pada derajat kekafiran yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Semisal, ucapan Nabi Muhammad  Shalallahu ‘alihi wa sallam dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Rasulallah Shalallahu ‘alihi wa sallam bersbda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Janganlah kalian kembali kufur setelah (kematian)ku, dengan saling memukul sebagian dengan yang lainnya (saling berperang)". HR Bukhari no: 1739. Muslim no: 1679.

Yang dimaksud dengan kufur disini adalah kufur kecil dikarenakan yang namanya membunuh jiwa seorang mukmin adalah perkara besar dan termasuk dosa besar, akan tetapi, tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Dalil yang mendasari hal tersebut adalah firman Allah tabaraka wa ta'ala yang mengatakan:

 ﴿ وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱقۡتَتَلُواْ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ فَإِنۢ بَغَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا عَلَى ٱلۡأُخۡرَىٰ فَقَٰتِلُواْ ٱلَّتِي تَبۡغِي حَتَّىٰ تَفِيٓءَ إِلَىٰٓ أَمۡرِ ٱللَّهِۚ فَإِن فَآءَتۡ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَا بِٱلۡعَدۡلِ وَأَقۡسِطُوٓاْۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ٩[ الحجرات: 9]
"Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil".  (QS al-Hujuraat: 9).

Selanjutnya Allah Shubhanahu wa ta’ala mengatakan dalam ayat berikutnya:
﴿ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ  ١٠ [ الحجرات: 10]
"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu".  (QS al-Hujuraat: 10).

Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan dalam ayat diatas, keadaan dua kubu yang saling berperang, akan tetapi, Allah ta'ala masih menamakan mereka sebagai orang mukmin, bahwa mereka adalah saudara. Ini menunjukan kalau membunuh orang tanpa ada alasan yang dibenarkan, walaupun termasuk dosa besar dan kejahatan yang tidak bisa ditolerir, tidak sampai mengeluarkan sang pembunuh dari ruang lingkup keimanan pada kekafiran, dengan catatan selagi pelakunya tidak berkeyakinan halal membunuh orang lain.
Diantara contoh lain dari kufur kecil adalah kufur terhadap nikmat. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah ta'ala di dalam banyak ayat -Nya, salah satunya:

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat".  (QS an-Nahl: 112). [2]
 
Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.






[1] . Kafir jenis ini dengan yang sebelumnya ada sisi persamaan, namun, ada beberapa berbedaan dari beberapa sisi. Silahkan lihat kitab: 'Syifa'ul Alil fii Masail Qadha wal Qadar. Madarijus Salikin. Keduanya karya Ibnu Qayim. Dan kitab: al-Khafaaji fii Hasyiyatihi 'ala Kitab Asy-Syifa' karya al-Qadhi Iyadh.
[2] . Pembahasan ini banyak mengambil dari kitab: Durus minal Qur'anul Karim. Karya D. Shaleh al-Fauzan, dari hal: 159-166.