Jumat, 20 Juni 2014

Haramnya Bersikap Sombong Dan Merasa Ta'jub Pada Diri Sendiri

                                                                
 
 


Haramnya  Bersikap Sombong Dan  Merasa Ta'jub Pada Diri Sendiri

Allah Ta'ala berfirman:
"Perumahan akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak hendak berbuat sewenang-wenang di bumi dan tidak perlu hendak melakukan kerosakan, sedang kesudahan - yang baik -adalah untuk orang-orang yang bertaqwa." (al-Qashash: 83)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong." (al-lsra': 37)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Janganlah engkau memalingkan muka dan para manusia sebab kesombongan dan janganlah berjalan di bumi dengan takabbur, sesungguhnya Allah itu tidak suka kepada setiap orang yang sombong dan membanggakan diri." (Luqman: 18)
Makna tusha'-'ir khaddaka ialah engkau membuang muka atau memalingkannya dari orang banyak kerana berlagak sombong kepada mereka itu, sedang almarah atau maraha ialah kesombongan atau takabbur.
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Sesungguhnya Qarun itu termasuk dalam golongan kaumnya Musa, tetapi ia melakukan aniaya kepada mereka. Kami memberikan kepadanya gedung simpanan kekayaan yang anak kuncinya saja berat dipikul oleh sekumpulan orang yang kuat. Perhatikanlah ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah engkau bergembira - melampaui batas, sesungguhnya Allah itu tidak senang kepada orang yang bergembira - secara melampaui batas - itu," sehingga firmanNya: "Kemudian ia dan rumahnya Kami benamkan ke dalam tanah," sampai akhirnya ayat-ayat itu.

610. Dari Abdullah bin Mas'ud r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Tidak dapat masuk syurga seseorang yang dalam hatinya ada sifat kesombongannya seberat debu." Kemudian ada orang berkata: "Sesungguhnya seseorang itu ada yang senang jikalau pakaiannya itu baik dan terumpahnya pun baik." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan menghinakan orang banyak." (Riwayat Muslim)
Batharulhaqqi ialah menolak kebenaran dan mengembalikannya kepada orang yang mengucapkannya itu - yakni memberikan bantahan pada kebenaran tadi, sedang ghamthun-nasi ialah menghinakan para manusia.

611. Dari Salamah bin al-Akwa' r.a. bahawasanya ada seorang lelaki makan di sisi Rasulullah s.a.w. dengan menggunakan tangan kirinya, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Makanlah dengan menggunakan tangan kananmu." Orang itu berkata: "Saya tidak dapat makan sedemikian itu." Beliau s.a.w. bersabda: "Tidak dapat engkau?" Ia berbuat sedemikian itu tidak ada yang mendorongnya, melainkan kesombongannya juga. Salamah berkata: "Orang itu akhirnya benar-benar tidak dapat mengangkat tangan kanannya ke mulutnya," yakni tangannya terus cacat untuk selama-lamanya, sebab tidak dapat digunakan apa-apa. (Riwayat Muslim)

612. Dari Haritsah bin Wahab r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidaklah saya memberitahukan padamu semua, siapakah ahli neraka itu? Mereka itu ialah orang yang keras  kepala,  suka   mengumpulkan  harta  tetapi  enggan  membelanjakannya - untuk kebaikan - lagi bersikap sombong." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan  Hadis  ini telah dihuraikan dalam  bab Golongan orang-orang lemah dari kaum Muslimin - lihat Hadis no. 252.

613. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Syurga dan neraka berbantah-bantahan. Neraka berkata: "Di tempatku ada orang-orang yang gagah-gagah - suka menekankan kemahuannya pada orang banyak - lagi orang-orang yang sombong." Syurga berkata: "Di tempatku adalah orang-orang yang lemah dan kaum miskin." Allah kemudian memberikan keputusan antara kedua makhluk ini, firmanNya: "Sesungguhnya engkau syurga adalah kerahmatanKu dan denganmu lah Aku merahmati siapa saja yang Ku kehendaki, sedang sesungguhnya engkau neraka adalah siksaKu yang denganmu lah Aku menyiksa siapa saja yang Ku kehendaki. Masing-masing dari keduamu itu atas tanggungan Ku lah perkara isinya." (Riwayat Muslim)

614. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Allah tidak akan melihat pada hari kiamat nanti kepada seseorang yang menarik sarungnya - yakni melemberehkan pakaiannya sampai ke bawah kaki - dengan tujuan kesombongan." (Muttafaq 'alaih)

615. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Ada tiga macam orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak pula menganggap mereka sebagai orang bersih - dari dosa, juga tidak hendak melihat mereka itu dan bahkan mereka akan memperolehi siksa yang pedih sekali, iaitu orang tua yang berzina, raja-kepala negara-yang suka membohong dan orang miskin yang sombong." (Riwayat Muslim)

616. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Allah 'Azzawajalla berfirman - dalam Hadis Qudsi: "Kemuliaan adalah sarungKu dan kesombongan adalah selendangKu. Maka barangsiapa yang mencabut salah satu dari kedua pakaianKu itu, maka pastilah Aku menyiksa padanya," ertinya mencabut ialah merasa dirinya paling mulia atau berlagak sombong. (Riwayat Muslim)

617. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang berjalan dengan mengenakan pakaian yang merasa hairan - bangga - dengan dirinya sendiri, ia menyisir rapi-rapi akan rambutnya lagi pula berlagak sombong di waktu berjalan, tiba-tiba Allah membenamkannya, maka ia tenggelamlah dalam bumi sehingga besok hari kiamat." (Muttafaq 'alaih)

618. Dari Salamah bin al-Akwa' r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidak henti-hentinya seseorang itu menyombongkan dirinya sehingga dicatatlah ia dalam golongan orang-orang yang bongkak, maka akan mengenai pada orang itu bahaya yang juga mengenai golongan manusia-manusia yang bongkak."
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.
Yadz-habu binafsihi ertinya merasa dirinya tinggi dan juga berlaku sombong.



Nota kaki:

 
Muka depan
 
 
     

Keutamaan Bergaul Dengan Orang Banyak

                                                                   
 
 


Keutamaan Bergaul Dengan Orang Banyak, Menghadhiri Shalat-shalat Jum'at Dan Jamaah Bersama Mereka Serta Mengunjungi Tempat-tempat Kebaikan Dan  Majlis-majlis Zikir, Juga  Meninjau Orang Yang Sakit, Menghadiri Janazah-janazah, Membantu Yang Mempunyai Hajat, Menunjukkan Yang Bodoh Dan Lain-lain Yang Termasuk Kemaslahatan Mereka Bagi Orang Yang Kuasa Beramar Ma'ruf Dan Nahi Mungkar. Demikian Pula Mencegah Diri Sendiri Dari Berbuat Menyakiti Serta Sabar Atas Sesuatu Yang Menyakitkan Yang Menimpa Pada Diri Sendiri


Ketahuilah bahawasanya bercampur - bergaul - dengan orang banyak menurut cara yang saya sebutkan itu adalah yang terpilih dan itulah yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. serta para Nabi Iain-lain shalawatullah wa salamuhu 'alaihim, begitu juga dilakukan oleh para khulafa' rasyidun dan orang-orang yang sesudah mereka iaitu dari golongan para sahabat serta para tabi'in dan pula orang-orang yang sesudah mereka dari golongan alim-ulama kaum Muslimin dan orang-orang yang pilihan di antara mereka. Yang sedemikian itu adalah mazhabnya sebahagian besar kaum tabi'in dan orang-orang yang sesudah mereka. Imam as-Syafi'i dan Imam Ahmad serta sebahagian banyak ahli fikih radhiallahu 'annum juga mengucapkan - berpendapat - sebagaimana yang tersebut di atas itu - yakni lebih baik bergaul dengan para manusia untuk beramar ma'ruf nahi mungkar daripada mengasingkan diri sendiri serta menghindari bergaul.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan tolong menolonglah engkau semua atas kebajikan dan ketaqwaan." (al-Maidah: 2)
Ayat-ayat yang semakna dengan apa yang saya sebutkan di atas itu amat banyak dan mudah dimaklumi.



Nota kaki:

 
Muka depan
 
 
     

Sabar, Perlahan-lahan Dan Kasih-sayang Lemah-lembut

                                                                   
 
 


Sabar, Perlahan-lahan Dan Kasih-sayang Lemah-lembut

Allah Ta'ala berfirman:
"Dan orang-orang yang menahan marahnya serta memaafkan kepada orang banyak dan Allah itu mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (ali-lmran: 134)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Berilah pengampunan, perintahlah kebaikan dan janganlah menghiraukan kepada orang-orang bodoh." (al-A'raf: 199)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan  tidaklah  sama  kebaikan  dan  kejahatan  itu. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, sehingga orang yang bermusuhan antara engkau dengan ia akan menjadi teman yang amat setia. Perbuatan sedemikian itu tidak akan diberikan kepada siapapun, selain dari orang-orang yang berhati sabar dan tidak pula diberikan melainkan kepada orang yang mempunyai keberuntungan besar." (Fushshilat: 34-35)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Dan nescayalah orang yang berhati sabar dan suka memaafkan, sesungguhnya bal yang sedemikian itu adalah termasuk pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dengan keteguhan hati." (as-Syura: 43)

630. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda kepada Asyaj Abdul Qais: "Sesungguhnya dalam dirimu itu ada dua macam perkara yang dicintai oleh Allah, iaitu sabar dan perlahan-lahan - dalam tindakan." (Riwayat Muslim)
631. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah-lembut dan mencintai sikap yang lemah-lembut dalam segala perkara." (Muttafaq 'alaih)

632. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah-lembut dan mencintai sikap lemah-lembut. Allah memberikan sesuatu dengan jalan lemah-lembut, yang tidak dapat diberikan jika dicari dengan cara kekerasan, juga sesuatu yang tidak dapat diberikan selain dengan jalan lemah-lembut itu." (Riwayat Muslim)

633. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya sikap lemah-lembut itu tidak menetap dalam sesuatu perkara, melainkan ia makin memperindah hiasan baginya dan tidak dicabut dari sesuatu perkara, melainkan membuat cela padanya." (Riwayat Muslim)

634, Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Ada seorang A'rab -orang Arab dari daerah pedalaman - kencing dalam masjid, lalu berdirilah orang banyak padanya dengan maksud hendak memberikan tindakan padanya. Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: "Biarkanlah orang itu dan di atas kencingnya itu siramkan saja setimba penuh air atau segayung yang berisi air. Kerana sesungguhnya saja engkau semua itu dibangkitkan untuk memberikan kemudahan dan bukannya engkau semua itu dibangkitkan untuk memberikan kesukaran." (Riwayat  Bukhari)
Assajlu dengan fathahnya sin muhmalah dan sukunnya jim, ertinya ialah timba yang penuh berisi air, demikian pula ertinya kata adzdzanub.

635. Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Berikanlah kemudahan dan jangan mempersukarkan. Berilah kegembiraan dan jangan menyebabkan orang lari." (Muttafaq 'alaih)

636. Dari Jarir bin Abdullah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang tidak dikurniai sifat lemah-lembut, maka ia tidak dikurnia segala macam kebaikan." (Riwayat Muslim)

637. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi s.a.w.: "Berikanlah wasiat padaku!" Nabi s.a.w. menjawab: "Janganlah engkau marah." Orang itu mengulang-ulangi lagi permintaan wasiatnya sampai beberapa kali, tetapi beliau s.a.w. tetap menjawab: "Janganlah engkau marah." (Riwayat Muslim)

638. Dari Abu Ya'la, iaitu Syaddad bin Aus r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:
"Sesungguhnya Allah itu menetapkan untuk berbuat kebaikan dalam segala hal. Maka jikalau engkau semua membunuh, maka berlaku baiklah dalam membunuh itu dan jikalau engkau semua menyembelih, maka berlaku baguslah dalam menyembelih itu. Hendaklah seseorang dari engkau semua itu mempertajamkan pisaunya serta memberi kelonggaran kepada apa yang disembelihnya itu," seperti mempercepat jalannya pisau, tidak dikuliti sebelum benar-benar dingin, memberi minum sebelum disembelih dan Iain-lain. (Riwayat Muslim)
Keterangan:
Dalam Agama Islam hukuman bunuh itu juga diadakan, misalnya orang yang berzina muhshan, iaitu dengan cara direjam (lihat Hadis keempat belas) atau perompak yang menghadang di jalan dengan cara dibunuh lalu disalibkan, juga seperti orang yang bermurtad dari Agama Islam, ia pun wajib dibunuh setelah dinanti-kan tiga hari untuk disuruh bertaubat. Pembunuhannya dengan dipotong lehernya. Dalam hal hukuman bunuh dengan pemotongan leher ini, Rasulullah s.a.w. memberikan tuntunan hendaknya dilakukan dengan sebaik-baiknya, umpama pedang yang digunakan untuk itu hendaklah yang tajam, juga jangan mengadakan siksaan yang tidak-tidak, memotong-motong anggotanya setelah mati, dijadikan tontonan dan Iain-Iain.
Mengenai hukuman rejam, yakni dilempari batu yang sedang, sampai mati untuk orang yang berzina muhshan serta dibunuh lalu disalibkan untuk perompak, maka caranya memang demikianlah yang ditetapkan oleh syariat. Jadi sekalipun nampaknya kurang baik tetapi oleh sebab sudah demikian itu yang digariskan oleh syariat Islam, maka cara itu wajib tetap diikuti, sesuai dengan nash-nash yang ada.
Juga di kala menyembelih binatang untuk dimakan, hendaklah dengan cara yang sebaik-baiknya pula, misalnya pisaunya yang tajam, disenang-senangkan dulu sebelum disembelih dengan diberi makan minum secukupnya, dibaringkan di tempat yang rata, pisau dijalankan secepat mungkin sampai putuslah urat besar di lehernya, jangan dikuliti dulu sampai dingin badannya, jangan pula menyembelih yang satu di muka yang lainnya, jangan pula disembelih binatang yang menyusui sebab kasihan anaknya dan Iain-Iain lagi.
Renungkanlah betapa lengkapnya aturan-aturan dalam Agama Islam itu, sampai menyembelih pun diberi tunjukan secukupnya.

639. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Tidak pernah sama sekali Rasulullah s.a.w. itu diberi pemilihan antara dua macam perkara, melainkan beliau s.a.w. tentu mengambil - memilih - yang termudah di antara keduanya itu, asalkan yang dianggapnya termudah ini bukannya merupakan suatu hal yang dosa. Jikalau hal itu berupa suatu dosa, maka beliau s.a.w. adalah sejauh-jauh manusia daripadanya. Rasulullah s.a.w. juga tidak pernah sama sekali membalas sesuatu yang ditujukan pada diri peribadinya, melainkan jikalau kehormatan Allah itu dilanggar, maka beliau s.a.w. pasti membalasnya semata-mata kerana mengharapkan keredhaan Allah belaka." (Muttafaq 'alaih)

640. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sukakah engkau semua saya beritahu tentang siapakah orang yang diharapkan masuk neraka atau kepada siapakah neraka itu diharamkan memakannya? Neraka itu diharamkan untuk orang yang dekat pada orang banyak - yakni baik dalam bergaul, lemah-lembut, berhati tenang - tidak gelabah dalam menghadapi sesuatu -serta bersikap mudah - yakni gampang dimintai pertolongan."
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.



Nota kaki:

 
Muka depan
 
 
     

Menahan Apa-apa Yang Menyakitkan

                                                                   
 
 


Menahan Apa-apa Yang Menyakitkan

Allah Ta'ala berfirman:
"Dan orang-orang yang menahan kemarahan dan yang memaafkan kepada orang banyak dan Allah itu mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan," (ali-lmran: 134)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Dan nescayalah orang yang berhati sabar dan suka memaafkan, sesungguhnya hal yang sedemikian itu adalah termasuk pekerjaan yang dilakukan dengan keteguhan hati." (as-Syura: 43)
Dalam bab ini Hadis-hadisnya adalah sebagaimana Hadis-hadis yang diterangkan dalam bab di muka sebelum bab ini.

646. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya ada seorang lelaki berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya itu mempunyai beberapa orang kerabat, mereka saya hubungi - yakni dipereratkan ikatan kekeluargaannya, tetapi mereka memutuskannya, saya berbuat baik kepada mereka itu, tetapi mereka berbuat buruk pada saya, saya bersikap sabar kepada mereka itu, tetapi mereka menganggap bodoh mengenai sikap saya itu." Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Jikalau benar sebagaimana yang engkau katakan itu, maka seolah-olah mereka itu engkau beri makanan abu panas -yakni mereka mendapat dosa yang besar sekali. Dan engkau senantiasa disertai penolong dari Allah dalam menghadapi mereka itu selama engkau benar dalam keadaan sedemikian itu." (Riwayat Muslim)
Syarah Hadis ini sudah terdahulu dalam bab Mempereratkan ikatan kekeluargaan - lihat Hadis no. 318.



Nota kaki:

 
Muka depan
 
 
     

Keutamaan Orang Kaya Yang Bersyukur Yakni Orang Yang Mengambil Harta Dari Arah Yang Diredhai Dan Membelanjakannya Dalam Arah-arah Yang Diperintahkan

                                                                    
 
 


Keutamaan Orang Kaya Yang Bersyukur Yakni Orang Yang Mengambil Harta Dari Arah Yang Diredhai Dan Membelanjakannya Dalam Arah-arah Yang Diperintahkan

Allah Ta'ala berfirman:
"Maka barangsiapa memberi - untuk kebaikan - dan bertaqwa, serta membenarkan - mempercayai - apa-apa yang baik, maka Kami akan memudahkan padanya untuk menempuh jalan yang mudah -iaitu mengerjakan kebaikan, keimanan dan akbirnya ke syurga." (al-Lail: 5-7)
Allah Ta'ala berfrman pula:
"Dan akan dihindarkan dari neraka itu orang yang bertaqwa, yang memberikan hartanya - untuk kebaikan, agar menjadi bersih -jiwanya. Dan tiada seorang pun dari kenikmatan yang ada padanya akan  diberi pembalasan,  melainkan  kerana  mencari  keredhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan orang itu nantinya akan lega." (al-Lail: 17-21)                         
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Jikalau engkau semua memberikan sedekah dengan terang-terangan, maka itu adalah baik, tetapi jikalau engkau semua menyembunyikannya - yakni tidak dengan cara terang-terangan dilihat orang lain, kepada orang-orang fakir, maka hal itu adalah lebib baik lagi untukmu semua dan dapat menghapuskan sebahagian dari kesalahan-kesalahanmu dan Allah adalah Maha mengetahui apa-apa yang engkau semua lakukan." (al-Baqarah: 271)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Tidak sekali-kali engkau semua akan memperolehi kebajikan sehingga engkau semua suka menafkahkan sebahagian dari apa yang engkau semua cintai. Dan apa saja yang engkau semua nafkahkan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya." (ali-lmran: 92)
Ayat-ayat yang menerangkan keutamaan bernafkah dalam berbagai ketaatan itu banyak sekali dan dapat dimaklumi.

569. Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tiada kehasudan yang dibolehkan melainkan dalam dua macam perkara, iaitu: seseorang yang dikurnia oleh Allah akan harta, kemudian ia mempergunakan guna menafkahkannya itu untuk apa-apa yang hak - kebenaran - dan seseorang yang dikurnia oleh Allah akan ilmu pengetahuan, kemudian ia memberikan keputusan dengan ilmunya itu - antara dua orang atau dua golongan yang berselisih - serta mengajarkannya pula." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan Hadis di atas baru saja dihuraikan di muka - lihat Hadis no. 542.

570. Dari  Ibnu  Umar radhiallahu 'anhuma dari  Nabi s.a.w., sabdanya:
"Tiada kehasudan yang dibolehkan, melainkan dua macam perkara, iaitu: seseorang yang dikurniai oleh Allah kepandaian dalam al-Quran - membaca, mengertikan dan Iain-lain, kemudian ia suka bersembahyang dengan membaca al-Quran itu pada waktu malam dan siang, juga seseorang yang dikurnia oleh Allah akan harta lalu ia menafkahkannya pada waktu malam dan siang." (Muttafaq 'alaih)

571. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya kaum fakir dari golongan sahabat-sahabat Muhajirin sama mendatangi Rasulullah s.a.w. lalu mereka berkata: "Orang-orang yang berharta banyak itu sama pergi - yakni meninggal dunia - dengan membawa darjat yang tinggi-tinggi serta kenikmatan yang kekal." Rasulullah s.a.w. bertanya: "Mengapa demikian?" Orang-orang itu menjawab: "Kerana mereka dapat bersembahyang sebagaimana kita juga bersembahyang, mereka berpuasa sebagaimana kita berpuasa, mereka bersedekah, sedangkan kita tidak dapat bersedekah dan sedangkan mereka dapat memerdekakan - hamba sahaya - dan kita tidak dapat memerdekakan itu."
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Sukakah engkau semua saya beritahukan akan sesuatu amalan yang dengannya itu engkau semua dapat mencapai pahala orang yang mendahuluimu dan pula dapat mendahului orang yang sesudahmu. Juga tiada seorang pun yang menjadi lebih utama daripadamu semua, melainkan orang yang mengerjakan sebagaimana amalan yang engkau semua lakukan ini?"
Para sahabat menjawab: "Baiklah, ya Rasulullah." Beliau kemudian bersabda lagi: "Bacalah tasbih - Subhanallah, takbir - Allah Akbar - dan tahmid - Alhamdulillah - setiap selesai bersembahyang sebanyak tiga puluh tiga kali masing-masing."
Selanjutnya kaum fakir dari golongan sahabat Muhajirin itu kembali mendatangi Rasulullah s.a.w. lalu mereka berkata: "Saudara-saudara kita golongan yang hartawan-hartawan itu telah mendengar mengenai apa yang kita kerjakan ini, oleh sebab itu mereka pun mengerjakan sebagai yang kita lakukan itu."
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Yang sedemikian itu adalah keutamaan Allah yang dlkurniakan oleh Nya kepada siapa saja yang dikehendaki." (Muttafaq 'alaih)
Ini adalah lafaz riwayat Imam Muslim.



Nota kaki:

 
Muka depan
 
 
     

Takut — Kepada Allah Ta'ala

                                                                      
 
 


Takut Kepada Allah Ta'ala

Allah Ta'ala berfirman:
"Dan kepadaKu, maka takutlah engkau semua!" (al-Baqarah: 40)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Sesungguhnya tindakan siksaan Tuhannya itu adalah sangat dahsyatnya." (al-Buruj: 12)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Dan demikianlah tindakan Tuhanmu jikalau menindak kepada penduduk negeri, yang mereka itu melakukan kezaliman, sesungguhnya tindakan penghukuman Allah itu adalah amat pedih dan keras. Sesungguhnya hal yang sedemikian itu niscaya merupakan keterangan untuk orang yang takut akan siksa hari akhir. Itulah hari yang seluruh manusia dikumpulkan dan itulah pula hari yang disaksikan. Tidaklah Kami akan mengundurkan hari itu, melainkan sampai waktu yang ditentukan. Iaitu pada hari yang tidak seorang pun akan berbicara, melainkan dengan izinNya dan di antara para manusia itu ada yang celaka dan ada pula yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka tempatnya adalah dalam neraka. Mereka di situ menarik nafas panjang dan mengerang." (Hud: 102-106)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan Allah memperingatkan engkau semua akan kewajipanmu terhadap Allah sendiri - supaya tidak terkena siksanya." (ali-lmran: 28)
Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Pada hari seseorang manusia lari meninggalkan saudaranya, ibu dan ayahnya, juga isteri dan anak-anaknya. Setiap seseorang pada hari itu mempunyai urusan yang membuat diri sendiri sibuk - dari urusan orang lain." (Abasa: 34-37)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya pergoncangan hari kiamat itu adalah suatu peristiwa yang dahsyat. Pada hari itu engkau lihat perempuan yang menyusukan melupakan anak yang disusukannya, juga setiap perempuan yang mengandung melahirkan kandungan-kandungannya; engkau lihat pula seluruh manusia itu dalam keadaan mabuk, tetapi mereka itu sebenarnya tidaklah mabuk, meiainkan siksa Allah jualah yang sangat hebatnya." (al-Haj: 1-2)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Dan orang yang takut di waktu berdiri di hadapan Tuhannya,ia akan memperoleh dua buah taman syurga." (ar-Rahman: 46)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Dan para ahli syurga setengahnya berhadap-hadapan dengan setengahnya sambil saling tanya menanyakan. Mereka berkata: "Sesungguhnya kita pada masa dahulu - ketika di dunia - merasa takut terhadap keluarga kita. Tetapi Allah mengurniakan kepada kita dan melindungi kita dari siksa angin yang amat panas. Sesungguhnya kita bermohon kepadaNya sejak saat sebelum ini, sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi kurnia lagi Maha Penyayang." (at-Thur: 25-28)
Ayat-ayat dalam bab ini amat banyak sekali dan dapat dimaklumi, sedang tujuannya ialah untuk menunjukkan kepada bahagian yang lainnya - sebagai penjelasan - dan begitulah hasilnya.

395. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Kami diberitahu oleh Rasulullah s.a.w. dan ia adalah seorang yang benar lagi dapat dipercayai, sabdanya:
"Sesungguhnya seseorang di antara engkau semua itu dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai mani, kemudian merupakan segumpal darah dalam waktu empat puluh hari itu pula, selanjutnya menjadi sekerat daging dalam waktu empat puluh hari lagi. Selanjutnya diutuslah seorang malaikat, lalu meniupkan ruh dalam tubuhnya dan diperintah untuk menulis empat kalimat, iaitu mengenai catatan rezekinya, ajal serta amalnya dan apakah ia termasuk orang celaka atau pun bahagia. Maka demi Zat yang tiada Tuhan selain daripadaNya, sesungguhnya seseorang di antara engkau semua, nescayalah melakukan dengan amalan ahli syurga, sehingga tiada di antara dirinya dengan syurga itu melainkan hanya jarak sezira' - sehasta, tetapi telah didahului oleh catatan kitabnya, lalu ia melakukan dengan amalan ahli neraka, kemudian akhirnya masuklah ia dalam neraka itu. Dan sesungguhnya ada pula seseorang di antara engkau semua itu, nescaya mengamalkan dengan amalannya ahli neraka, sehingga tidak ada antara orang itu dengan neraka, melainkan hanya jarak sezira' saja, tetapi telah didahului oleh catatan kitabnya,- lalu ia mengamalkan dengan amalan ahli syurga dan akhirnya masuklah ia dalam syurga itu." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Dalam Hadis ini ada beberapa hal yang perlu kita maklumi, iaitu:
(a) Malak yang dikirimkan ini, memang diserahi oleh Allah untuk melihat rahim ibu anak itu sejak ia berupa mani. Di waktu ini malak itu berkata: "Wahai Tuhan, apa dijadikan terus apa tidak? Kalau tidak terus ditakdirkan oleh Allah menjadi manusia, lalu dijadikan darah kotor yang terlempar sia-sia. Tetapi apabila memang dikehendaki jadi, malak itu lalu berkata: "Wahai Tuhan, laki-lakikah atau perempuankah ini, bagaimana rezekinya, bila ajalnya, (waktu meninggalnya), bagaimana kelakuannya dan di bumi mana ia nanti meninggal (di kubur)." Allah lalu berfirman: "Pergilah ke Lauh Mahfuzh, akan engkau temui semuanya." Malak itu lalu naik ke atas Lauh Mahfuzh dan mencatat semuanya.
Jadi semua apa yang terjadi atas diri kita ini benar-benar telah digariskan oleh Allah menurut takdir yang dikehendaki. Tetapi kita tetap harus berusaha menjadi hamba Allah yang baik segala-galanya, sebab kita semua tentu tidak tahu takdir apa yang akan kita alami. Jadi marilah kita berusaha dan berikhtiar, sebab hanya di tangan Allahlah semua takdir itu.
Kembali ke atas, iaitu sesudah anak itu ditulis semua ketentuan-ketentuannya, lalu 40 hari jadi nuthfah, 40 hari 'alaqah dan 40 hari lagi berupa mudhghah, kemudian ditiupkan ruhnya. Selanjutnya ialah sebagaimana firman Allah dalam al-Quran:
"Lalu kami ubahlah mudhghah itu menjadi tulang-belulang, kemudian tulang-belulang itu kami beri daging, selanjutnya Kami lupakanlah suatu makhluk lain (yakni jadi manusia benar-benar). Maha Sucilah Allah itu, sebaik-baiknya Zat yang membuat."
(b) Yang meniupkan jiwa dalam tubuh manusia itu malak, tetapi ini tidak bererti bahawa malak yang memberi ruh kita, tetapi Allah jualah yang memberikan, hanya saja dengan tiupan malak itulah yang merupakan sebab musababnya manusia diberi ruh oleh Allah. Jadi tiupan ini hanyalah sebagai perantaraan belaka.
Adapun ruh itu adalah benda halus yang hanya Allah saja yang  Mengetahui akan keadaannya. Dalam al-Quran disebutkan:
"Dan orang-orang itu sama bertanya padamu (Muhammad) tentang halnya ruh. Katakanlah: "Ruh itu adalah dari urusan Tuhanku. Engkau semua ini tidak diberi pengetahuan oleh Allah melainkan hanya sedikit sekali."
(c) Empat kalimat ertinya empat ketentuan dari Allah.
(d) Maksudnya sehasta ialah kerana sangat dekat jaraknya.
Adapun Hadis-hadis yang menguraikan bab ini, maka amat banyak sekali pula. Maka dari itu kita akan menyebutkan sebahagian dari Hadis-hadis itu, dan dengan Allah jualah datangnya pertolongan.

396. Dari Ibnu Mas'ud r.a. pula, katanya: Rasulullah S.A.W bersabda:
"Pada hari kiamat itu -yakni di saat seluruh hamba Allah sedang berdiri untuk dihisab atau diperhitungkan amalannya, didatangkanlah di Jahannam sebanyak tujuh puluh ribu kendali dan beserta setiap kendali ada tujuh puluh ribu malaikat yang sama menariknya." (Riwayat Muslim)

397. Dari an-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka pada hari kiamat itu adalah seseorang yang di bahagian bawah kedua kakinya diletakkan dua buah bara api yang dengannya itu dapat mendidihlah otaknya. Orang itu tidak meyakinkan bahawa ada orang lain yang lebih sangat siksanya daripada dirinya sendiri-jadi ia mengira bahawa dirinya itulah yang mendapat siksa yang terberat, padahal orang itulah yang teringan sekali siksanya." (Muttafaq 'alaih)

398. Dari Samurah bin Jundub r.a. bahawasanya Nabiullah s.a.w. bersabda:
"Di antara para ahli neraka itu ada orang yang dijilat oleh api neraka sampai pada kedua tumitnya, di antara mereka ada yang dijilat oleh api sampai kedua lututnya, ada juga yang sampai ke empat ikat pinggangnya dan ada pula yang sampai di tulang lehernya." (Riwayat Muslim)
Alhuj-zah ialah tempat mengikat sarung yang ada di bawah pusat. Dan Attarquwah dengan fathah ta' dan dhammahnya qaf ialah tulang yang ada di tengah leher dan setiap manusia itu mempunyai dua buah tulang tarquwah ini yang terletak di tepi lehernya.

399.  Dari    Ibnu    Umar radhiallahu    'anhuma    bahawasanya Rasulullah S.A.W bersabda:
"Seluruh manusia akan berdiri di hadapan Tuhan Seru sekalian alam - yakni berdiri bangun dari masing-masing kuburnya untuk diadili dan dihisab atau diperhitungkan amalannya sewaktu di dunia - sehingga di antara engkau semua itu ada orang yang tenggelam kerana keringatnya sendiri sampai di pertengahan telinganya kerana dahsyatnya keadaan, berdesak-desak serta amat teriknya matahari di saat itu. (Muttafaq 'alaih)

400. Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. mengucapkan sebuah khutbah yang saya tidak pernah mendengar suatu khutbah pun seperti itu - kerana amat menakutkan. Beliau s.a.w. bersabda:
"Andaikata engkau semua dapat mengetahui apa yang dapat saya mengetahuinya, nescayalah engkau semua akan tertawa sedikit saja dan akan menangis banyak-banyak."
Para sahabat Rasulullah s.a.w. lalu menutupi masing-masing wajahnya sambil terdengar suara isaknya. (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan:
Rasulullah s.a.w. menerima berita bahawa ada sesuatu tentang sahabat-sahabatnya, lalu beliau berkhutbah, kemudian bersabda:
"Ditunjukkanlah syurga dan neraka padaku maka belum pernah saya melihat sesuatu yang melebihi penglihatanku pada hari itu tentang bagusnya syurga dan buruknya neraka. Dan andaikata engkau semua dapat melihat apa yang dapat saya lihat, maka nescayalah engkau semua akan ketawa sedikit dan menangis banyak-banyak."
Maka tidak pernah datang pada para sahabat Rasulullah s.a.w. laitu hari yang lebih dahsyat lagi dari hari itu - tentang ngerinya khutbah yang diberikan oleh beliau s.a.w. Para sahabat sama menutupi masing-masing kepalanya sambil terdengar suara esaknya.
Alkhanin dengan menggunakan kha' mu'jamah ialah tangis dengan dengungan serta timbulnya suara esakan dari hidung.

401. Dari al-Miqdad r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Didekatkanlah matahari pada hari kiamat itu dari para makhluk hingga jarak matahari tadi adalah bagaikan kadar semil saja."
Sulaim bin 'Amir yang meriwayatkan Hadis ini dari al-Miqdad berkata: "Demi Allah, saya sendiri tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kata mil itu, apakah ertinya itu jarak semil bumi atau kah mil yang ertinya alat untuk mengambil celak - dari tempatnya - guna celak mata."
Rasulullah s.a.w. bersabda seterusnya: "Maka keadaan manusia-manusia pada hari itu adalah menurut kadar masing-masing amalannya dalam banyak sedikitnya keringat - yang keluar dari badannya.
Di antara mereka ada yang berkeringat sampai di kedua tumitnya dan di antaranya ada yang sampai di kedua lututnya dan di antaranya ada pula yang sampai di tempat pengikat sarungnya yang ada di kedua lambungnya, bahkan di antaranya ada yang dikendalikan oleh keringat itu dengan sebenar-benarnya dikendalikan - yakni seperti kendali kuda iaitu keringat tadi sampai masuk ke mulut dan kedua telinganya." Ketika menyabdakan ini Rasulullah s.a.w. menunjuk dengan tangannya ke arah mulutnya." (Riwayat Muslim)

402. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Para manusia sama berkeringat pada hari kiamat, sehingga keringatnya itu turun dalam bumi sedalam tujuh puluh hasta dan keringat itu mengendalikan mereka hingga mencapai ke telinga-telinga mereka - mengendalikan maksudnya sampai ke mulut dan telinga seperti kendali." (Muttafaq 'alaih)
Maknanya Yadzhabu fil-ardhi ialah turun dan menyelam.

403. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Kita semua bersama Rasulullah s.a.w., tiba-tiba terdengarlah suara benda yang jatuh keras, lalu beliau bersabda: "Adakah engkau semua mengetahui suara apakah ini?" Kita semua berkata: "Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Ini adalah batu yang di Iemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu dan kini sudah sampai di dasar neraka itu. Maka dari itu engkau semua dapat mendengarkan suara jatuhnya." (Riwayat Muslim)

404. Dari 'Adi bin Hatim r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tiada seorangpun dari engkau semua, melainkan akan diajak cara oleh Tuhannya, tidak ada antara ia dengan Tuhannya seorang penterjemah pun - perantara sebagai juru bahasanya. Orang itu lalu melihat ke arah kanannya, tetapi tidak ada yang dilihat olehnya, melainkan amalan yang telah ia lakukan dahulu saja - sebelum itu, dan ia melihat ke arah kirinya, maka tidak ada yang dilihat olehnya melainkan amalan yang ia lakukan dahulu saja,seterusnya ia melihat ke  arah mukanya, maka tidak ada yang dilihat olehnya melainkan neraka yang ada di hadapan mukanya itu. Maka dari itu, takutlah engkau semua pada siksa api neraka, sekalipun dengan jalan sedekah dengan belahan kurma." (Muttafaq 'alaih)

405. Dari Abu Zar r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya saya itu dapat melihat apa yang engkau semua tidak dapat melihatnya. Langit bersuara dan memang sepatutnyalah jikalau ia bersuara, sebab tiada tempat terluang selebar empat jari di langit itu, melainkan tentu ada malaikatnya yang meletakkan dahinya sambil bersujud kepada Allah Ta'ala. Demi Allah, andaikata engkau semua dapat melihat apa yang dapat saya lihat, nescayalah engkau semua akan ketawa sedikit dan pasti akan menangis banyak-banyak, juga engkau semua tidak akan merasakan berlazat-lazat dengan para wanita di atas hamparan, bahkan nescayalah engkau semua akan ke luar ke jalan-jalan untuk memohonkan pertolongan kepada Allah Ta'ala."
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.
Aththat dengan fathahnya hamzah dan syadahnya tha' dan taiththu dengan fathahnya ta' dan sesudahnya itu hamzah yang dikasrahkan, juga al-athithu, ialah suara sekedup atau tempat duduk di atas unta ataupun lain-lainnya. Maknanya ialah bahawasanya kerana banyak malaikat yang ada di langit yang sama beribadat itu telah menyebabkan langit itu merasa berat, sehingga bersuara tadi, sedang ashshu'udat dengan dhammahnya shad dan 'ain ertinya ialah jalan dan ertinya taj-aruna ialah memohonkan pertolongan.

406. Dari Abu Barzah - dengan menggunakan r.a. kemudian zai - iaitu Nadhlah bin'Ubaid al-Aslami r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidak henti-hentinya kedua kaki seseorang hamba - di hadapan Allah - pada hari kiamat - untuk ditentukan, apakah masuk syurga atau neraka, sehingga ia ditanya perihal umurnya, untuk apa dihabiskannya, perihal ilmunya, untuk apa ia melakukannya, perihal hartanya, dari mana ia memperolehinya dan untuk apa dinafkahkannya, juga perihal tubuhnya, untuk kepentingan apa dirosakkannya - yakni sampai matinya itu digunakan apa."
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih.

407. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. membaca - yang ertinya: "Pada hari itu - yakni hari kiamat - bumi akan memberitahukan khabar-khabarnya," kemudian beliau s.a.w. bersabda : "Adakah engkau semua mengetahui, apakah khabar-khabarnya itu?" Para sahabat berkata: "Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Sesungguhnya khabar-khabar yang akan diberitahukan itu ialah bahawa bumi itu akan menyaksikan pada setiap hamba, lelaki atau perempuan, perihal apa yang dilakukan di atas bumi itu. Bumi akan mengucapkan: "Orang ini akan melakukan begini dan begitu pada hari ini dan itu. Inilah khabar-khabarnya."
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

408. Dari Abu Said al-Khudri r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Bagaimanakah saya akan dapat bersenang-senang sedang malaikat yang bertugas meniup terompet sudah meletakkan mulutnya pada hujung terompet - sebagai tanda sudah dekatnya hari kiamat, sambil mendengarkan perintah, bila saja ia diperintah untuk meniupnya itu, maka seketika itu pula ia akan meniupkannya." Berita yang sedemikian dirasakan amat berat sekali oleh para sahabat Rasulullah s.a.w., lalu beliau s.a.w. bersabda kepada mereka: "Ucapkan sajalah: Hasbunallah wa ni'mal wakil - yakni cukuplah kita semua menyerahkan diri kepada Allah dan Dia adalah sebaik-baiknya Zat yang diserahi."
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.
Alqarn ialah trompet yang difirmankan oleh Allah Ta'ala -yang ertinya: Dan ditiuplah dalam trompet. Demikianlah yang ditafsirkan oleh Rasulullah s.a.w.

409. Dari Abu Hurairah r-a- katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang takut bermalam, tentu ia terus berjalan di waktu malam - untuk pulang - dan barangsiapa yang berjalan malam-malam, tentu sampai di rumah. Ingatlah bahawasanya harta-benda Allah itu adalah mahal sekali. Ingatlah bahawasanya harta-benda Allah yang dimaksudkan itu ialah syurga."
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini dalah Hadis hasan.
Adlaja dengan sukunnya dal, ertinya ialah berjalan di waktu permulaan malam. Adapun maksudnya ialah supaya kita semua giat-giat untuk melakukan ketaatan kepada Allah.
Wallahu a'lam.

410. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Dikumpulkanlah sekalian manusia di padang mahsyar pada hari kiamat dengan telanjang kaki, telanjang tubuh dan tidak berkhitan kemaluannya." Saya bertanya: "Ya Rasulullah, kalau begitu kaum wanita dan kaum lelaki semuanya dapat melihat antara yang sebahagian dengan sebahagian yang lainnya." Beliau s.a.w. menjawab: "Hai Aisyah, peristiwa pada hari itu lebih sangat untuk menjadi perhatian mereka daripada memerhatikan orang lain."
Dalam riwayat lain disebutkan:
"Peristiwa pada hari itu lebih penting untuk diperhatikan oleh setiap orang - daripada yang sebahagian melihat kepada sebahagian yang lain." (Muttafaq 'alaih)
Ghurlan dengan dhammahnya ghain ertinya tidak berkhitan.



Nota kaki:

 
Muka depan