Jumat, 30 Mei 2014

Obrolan Orang

Obrolan Orang
Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Ketokohan profil ini tidak diragukan lagi. Ia sangat meyakinkan, reputasinya tak perlu dipertanyakan. Banyak ayat Al-Qur`an yang membicarakan keutamaan beliau, baik secara pribadi maupun dalam konteks umum.
Imam Bukhari dan Muslim menyebutkan sebuah hadits dari sahabat Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Sesungguhnya Allah membenci pada kalian tiga perkara, (mengatakan) katanya dan katanya, membuang-buang harta dan banyak bertanya". HR Bukhari no: 1477. Muslim no: 593.

Qodhi Iyadh menjelaskan, "Dan maksud dari sabdanya, "Katanya dan katanya" ialah terlalu berlebihan dalam mengikuti berita orang lain, serta pembicaran dan kisah-kisah mereka yang tidak memiliki faidah sedikitpun. Katanya begini, fulan mengatakan begitu, di katakan seperti itu, dan seperti ini kami bicara.."[1]
Konteks hadits ini menyinggung tentang keadaan sebagian orang yang tidak mempunyai kesibukan lain kecuali hanya membicarakan orang, tentang keadaan mereka, dengan membicarakan secara rinci tanpa menyisakan celah sedikitpun. Dan bagi orang yang mau memperhatikan kondisi obrolan dan majelis pada tempat berkumpulnya orang, niscaya dia akan menjumpai bahwa kebanyakkan diantara majelis tersebut, orang-orang yang ada disitu, hanya ngobrol dengan perbincangan yang tidak jelas arahnya. Mulai dari politik nanti langsung masuk masalah ekonomi, lalu sampai pada permasalahan-permasalahan hukum agama yang tidak boleh didiskusikan kecuali oleh para ulama yang berhak mengambil kesimpulan hukumnya, kemudian sibuk dengan memperbincangkan kehormatan orang lain, sampai membicarakan perkara khusus yang tidak layak untuk disebutkan, serta cerita lucu yang banyak mengandung kedustaan didalamnya, demikian pula membicarakan secara detail keadaan beberapa orang serta kehidupannya, si fulan telah menceraikan istrinya, si fulan di pecat dari pekerjaannya, si fulan bangkrut dari perniagaanya, demikianlah waktu terbuang  percuma hanya untuk mengatakan, katanya dan katanya. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang terjerumus dalam perbuatan semacam itu telah melanggar beberapa hal dari hukum agama, diantaranya yaitu:

Pertama: Perbuatan semacam itu termasuk dari pembicaraan yang tidak ada gunanya, yang mana selayaknya bagi seorang muslim untuk berpaling dari kebiasaan tersebut serta menyibukan dengan perkara yang bermanfaat bagi dirinya. Karena Allah ta'ala telah menyebutkan dalam firman -Nya:

 قال الله تعالى: ﴿ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣  ﴾ [ المؤمنون: 3 ]
"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna". (QS al-Mu'minuun: 3).

      Syaikh Syinqithi menjelaskan, "Allah ta'ala telah menyebutkan dalam ayat mulia ini bahwa diantara sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang muslim yang beruntung ialah yang menjauhkan diri dari segala sesuatu yang tidak berguna, dan sesuatu yang tidak berguna tersebut ialah sesuatu yang tidak ada manfaatnya baik dari segi ucapan atau pun perbuatan. Masuk dalam hal ini ialah banyak bermain-main, bersendau gurau dan berkelakar yang seharusnya seseorang yang masih mempunyai muru'ah segera meninggalkannya.
Adapun pujian yang Allah ta'ala berikan terhadap orang beriman yang beruntung, seperti yang tersirat didalam ayat diatas, telah diterangkan dalam kesempatan dan ayat yang lain, seperti firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ مَرُّواْ كِرَامٗا ٧٢ [الفرقان: 72 ]
"Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya". (QS al-Furqaan: 72).

Dan diantara bentuk melewati sambil menjaga kehormatan dirinya ialah berpaling dari perbuatan yang tidak berfaedah serta tidak ikut serta bersama para pelakunya. Seperti dijelaskan dalam ayat yang lain, Allah ta'la berfirman:

قال الله تعالى: ﴿ وَإِذَا سَمِعُواْ ٱللَّغۡوَ أَعۡرَضُواْ عَنۡهُ ٥٥ [ القصص: 55 ]
"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya". (QS al-Qashash: 55).[2]

Imam Ibnu Hazm menyatakan, "Aku memandang bahwa pada pembicaran yang dilakukan oleh manusia yang memisahkan antara mereka dan minuman keras, anjing dan serangga itu terbagi menjadi tiga kelompok; Pertama, orang yang tidak perduli terhadap apa yang keluar dari lidahnya, berbicara seenaknya tanpa memperhatikan apakah untuk membela kebenaran, atau untuk mengingkari kebatilan, kelompok pertama ini justru ada di kebanyakan orang. Kedua, orang yang berbicara dalam rangka membela kebenaran yang ia sangka serta mencegah apa yang ia bayangkan kalau hal tersebut perkara batil, tanpa memperhatikan untuk mencari hakekat kebenarannya, akan tetapi, pembicaraan melebar ke sana kemari tanpa ada batasanya, maka kelompok ini juga banyak, namun tidak seperti yang pertama. Ketiga, orang yang berbicara sesuai dengan pokok pembicaraan, dan kelompok terakhir ini lebih mulia dari permata merah".[3]

Kedua: Telah datang peringatan dari para ulama salaf untuk meninggalkan perkara yang tidak berguna.
Dan dalam hal ini ada sebuah hadits yang sampai kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun, menjadi perselihisihan dikalangan para ulama akan ke absahannya, ada sebagian ulama yang menganggap haditsnya lemah dan ada pula yang menghasankannya, yaitu sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ» [أخرجه الترمذي]
"Termasuk dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan perkara yang tidak berguna bagi dirinya". HR at-Tirmidzi no: 2317.

Sahabat Abdullah bin Abbas yang dijuluki sebagai penerjemah al-Qur'an menuturkan, "Janganlah sekali-kali engkau berbicara tentang perkara yang tidak berguna bagimu, sampai kiranya engkau berpendapat itu berguna". Abu Sulaiman ad-Darani menjelaskan, "Barangsiapa yang menyibukkan dirinya (untuk urusan orang lain) dia akan disibukan oleh orang banyak". Berkata Umar bin Abdul Aziz, "Barangsiapa yang mau menghitung omongannya lalu membandingkan dengan amal perbuatannya niscaya ucapannya akan sedikit dan ia akan memilah mencari yang berguna bagi dirinya".
Al-Hafidh Ibnu Rajab mengomentari ucapan beliau, "Seperti apa yang beliau katakan. Sesungguhnya banyak orang enggan menghitung ucapannya lalu membandingkan dengan amal sholehnya, yang mana dirinya bertindak serampangan tanpa mencoba untuk memilah ucapannya, bahkan perkara ini, juga tidak disadari oleh seorang sahabat besar Mu'adz bin Jabal, sehingga beliau menanyakannya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, "Apakah kita akan diminta pertanggungjawaban dengan apa yang kami katakana? Maka Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ! وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ  في النَّارِ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Celaka engkau wahai Mu'adz! Bukankah yang menjerumuskan manusia ke dalam api neraka dengan wajah tersungkur adalah akibat lidah mereka". HR  at-Tirmidzi no: 2616. Beliau mengatakan, "Hadits hasan shahih".

Yang mana Allah azza wa jalla juga telah menafikan tentang kebanyakan perbincangan yang dilakukan oleh manusia, kecuali tiga perkara, sebagaimana dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ لَّا خَيۡرَ فِي كَثِيرٖ مِّن نَّجۡوَىٰهُمۡ إِلَّا مَنۡ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوۡ مَعۡرُوفٍ أَوۡ إِصۡلَٰحِۢ بَيۡنَ ٱلنَّاسِۚ ١١٤ [ النساء: 114 ]
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia". (QS an-Nisaa': 114).[4]

Al-Hafidh Ibnu Rajab mengatakan dengan menukil ucapannya ulama salaf, "Ada beberapa orang yang datang pada seorang sahabat ketika sedang sakit dan di dapati wajahnya bersinar-sinar, maka mereka bertanya padanya apa yang menjadikan wajahnya cerah bahagia, dia menjawab, "Tidak ada suatu amalan yang aku sangat berharap untuk mendapat pahalanya, kecuali pada dua perkara, pertama, aku tidak pernah berbicara suatu perkara yang tidak ada gunanya, dan hatiku tidak pernah mendengki pada sesama muslim".
Imam Hasan Bashri berkata, "Diantara salah satu tanda Allah ta'ala yang menjelaskan bahwa -Dia telah berpaling dari seorang hamba ialah menjadikan kesibukan orang tersebut pada perkara-perkara yang tidak berguna". Sahl bin Abdillah at-Tusturi menuturkan, "Barangsiapa berbicara pada perkara yang tidak ada gunanya maka dirinya telah dijauhkan dari sifat kejujuran". Sebagian ulama salaf mengatakan, "Omongan seorang hamba pada perkara-perkara yang tidak ada gunanya merupakan tipuan dari Allah ta'ala".[5]
Sahabat Abdullab bin Mas'ud memberi petuahnya, "Aku peringatkan kalian untuk menjauhi berlebih-lebihan dalam berbicara, cukup bagi kalian berbicara sesuai kebutuhannya".[6] Dan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Suraih al-Adawi radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berbicara yang baik atau hendaknya ia diam". HR Bukhari no: 6018. Muslim no: 47.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, berkata, "Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ صَمَتَ نَجَا » [أخرجه أحمد]
"Barangsiapa yang diam niscaya dirinya akan selamat". HR Ahmad 11/19 no: 6481.

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu, berkata, "Aku pernah bertanya pada Rasulallah, "Ya Rasulallah, apa keselamatan itu? Beliau menjawab:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أمسك عليك لسانك وليسعك بيتك وآبك على خطيئتك » [أخرجه الترمذي]
"Tahanlah lisanmu, dan bikinlah rumah yang lapang serta tangisilah kesalahan-kesalahanmu". HR at-Tirmidzi no: 2406. Beliau berkata, "Hadits hasan".

Imam Nawawi menjelaskan, "Ketahuilah, bahwasannya wajib bagi setiap mukalaf untuk menjaga lidahnya untuk mengucapkan suatu ucapan kecuali apabila ucapannya telah jelas nampak membawa kemaslahatan, dan apabila dijumpai ada sebuah ucapan yang kedudukannya sama antara meninggalkan dan meninggalkan dalam maslahatnya maka yang dianjurkan adalah menahan lisannya, karena bisa jadi ucapan yang mubah tersebut menyeret pada perkara yang haram maupun makruh. Bahkan inilah kebanyakan yang terjadi, dan yang selamat tentunya tidak melakukannya".[7]

Seorang penyair melantunkan bait syairnya:
Apabila diam menjadi kebiasaanmu maka
 Itulah kebiasaan para ulama terdahulu
Jika engkau merasa rugi karena sikap pendiammu
Maka telah banyak orang yang merugi karena banyak bicara
Pendiam adalah keselamatan karena ketika orang
Banyak bicara lahirlah permusuhan yang membahayakan
Sehingga menambah kerugian pada orang itu
Lalu ditimpa kebinasaan diatas kerugian

Ketiga: Bahwa berita yang dinukil lalu menyebar ditengah-tengah orang banyak, sehingga menjadi bahan obrolan mereka,  tentunya tidak menjamin dirinya selamat dari kedustaan dalam menukil berita tersebut.
Dan dalam hal ini, telah datang larangannya, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ  » [أخرجه مسلم]
"Cukup bagi seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila membicarakan setiap perkara yang dia dengar". HR Muslim no: 5.

Keempat: Bahwa perilaku itu bisa menjerumuskan si pelaku pada perkara mencari-cari kesalahan dan kekeliruan orang lain, dan itu masuk perkara yang dilarang. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu 'anhu, berkata, "Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلْ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعْ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ » [أخرجه أحمد]
"Wahai orang yang beriman hanya dengan lisannya dan belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian saling menggunjing sesama muslim jangan pula kalian mencari-cari kesalahan mereka, karena sesungguhnya barangsiapa yang mencari-cari kesalahan mereka maka Allah akan buka kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah buka aib dirinya maka akan dijelekkan oleh Allah walaupun didalam rumahnya". HR Ahmad 33/20 no: 19776.
Bahkan terkadang hal tersebut mengantarkan pada perbuatan ghibah, karena orang biasanya tidak suka kalau berita dan rahasia dirinya disebarkan, kecuali perkara yang baik. Pernah ada sesorang yang mencela orang lain dihadapan seorang ulama salaf, maka ulama tadi balik bertanya, "Apakah engkau turut serta memerangi tentara Romawi? Ia menjawab, "Tidak", lalu ulama tadi memberi petuah, "Apakah orang nashrani bisa selamat darimu sedangkan saudaramu muslim tidak selamat dari lidahmu?.
Didalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Seorang muslim ialah yang muslim lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya". HR Bukhari no: 11, Muslim no: 42.

Kelima: Banyak berbicara selain untuk dzikir kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menyebabkan hati menjadi keras membatu. Seperti telah disinggung oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla melalui firman -Nya:
 قال الله تعالى: ﴿ فَوَيۡلٞ لِّلۡقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ٢٢ [ الزمر: 22 ]
"Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata". (QS az-Zumar: 22).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فإن شاء عذبهم وإن شاء غفر لهم » [أخرجه الترمذي]
"Tidaklah ada suatu kaum yang duduk bermajelis lalu mereka tidak berdzikir kepada Allah sedikitpun, tidak pula mengucapkan shalawat kepada nabinya, melainkan bagi mereka adalah kerugian, yang bila Allah menghendaki akan mengadzabnya dan bila menghendaki Allah akan mengampuninya". HR at-Tirmidzi no: 3380. Beliau mengatakan, "Hadits hasan shahih".

Keenam: Bahwa perbuatan tersebut termasuk perilaku membuang-buang waktu pada perkara yang tidak berguna. Dan seseorang akan ditanya pada setiap gerak dan langkah kehidupannya, bahkan perbuatan semacam ini merupakan pokok pertanyaan yang akan dihadapkan padanya kelak pada hari kiamat.
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salllam pernah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع: وذكر منها: عن عمره فيما أفناه » [أخرجه الترمذي ]
"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba (dihadapan Allah) kelak pada hari kiamat sampai kiranya ia ditanya tentang empat hal. Kemudian beliau menyebutkan salah satunya, "Tentang umurnya untuk apa dia habiskan". HR at-Tirmidzi no: 2417.

Kesimpulannya:
                Bahwa bagi seorang mukmin hendaknya bersungguh-sungguh didalam menggunakan kesempatan hidupnya, dengan menjaga waktu yang dimiliki, dan menyibukan dengan perkara yang berguna bagi dirinya, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ » [أخرجه مسلم]
"Bersemangatlah untuk mencari perkara yang bermanfaat untukmu". HR Muslim no: 2664.

Dan seorang mukmin hendaknya menjauhi perkara-perkara yang tidak bermanfaat, menghindari akhlak yang jelek dan pembatal-pembatal muru'ah.
Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.






[1] . Ikmalul Mu'alim bii Fawaidi Muslim 5/591.
[2] . Adhawa'ul Bayan 5/827-828.
[3] . Tabwib Kitabul Akhlak wa Siyar fii Mudawatin Nafs oleh Ibnu Hazm. Karya D. Ali Yahya hal: 28.
[4] . Jami'ul Ulum wal Hikam hal: 139.
[5] . Semuanya dinukil dari kitab Jami'ul Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rajab hal: 139.
[6] . ash-Shamtu oleh Ibnu Abi Dunya hal: 80.
[7] . Syarh Shahih Muslim 2/19.

Jembatan Antara Surga Dan Neraka

Jembatan Antara Surga Dan Neraka
Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba'du:
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abu Sa'id dal-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنْ النَّارِ فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا » [أخرجه البخاري]
"Ketika orang-orang beriman telah selamat dari api neraka, mereka lalu tertahan di qonthoroh (jembatan) yang berada diantara surga dan neraka. Kemudian mereka semua dihukumi satu sama lain atas kezaliman yang dahulu pernah mereka lakukan. Sampai ketika mereka semua sudah bersih dari dosa, mereka baru di izinkan untuk masuk ke dalam surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya. Benar-benar salah seorang diantara kalian itu lebih mengenali tempat tinggalnya disurga dari pada tempat tinggalnya dahulu ketika didunia". HR Bukhari no: 6535.

Penjabaran Hadits:
Sabdanya, "Ketika orang-orang beriman telah selamat dari api neraka". Yaitu manakala mereka telah berhasil melewati titian yang mereka lewati sesuai dengan tingkat amalannya. Imam Qurthubi mengatakan, "Mereka adalah orang-orang beriman, yang mana Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mengetahui bahwa dengan adanya qishash tersebut tidak akan menyisakan kebaikan mereka sedikitpun".[1] Karena jika dilaksanakan qishash, kebaikan yang mereka miliki sudah tidak tersisa yang bisa digunakan sebagai modal untuk masuk ke dalam surga.
Al-Hafidh Ibnu Hajar menerangkan, "Kemungkinan yang dimaksud mereka itu ialah ashabul a'raf dari kalangan mereka menurut pendapat yang lebih kuat, yaitu orang-orang yang mempunyai kebaikan dan keburukan sama kedudukannya. Lalu keluar dari kelompok ini dua golongan dari kalangan orang-orang beriman, yakni orang yang masuk surga tanpa hisab dan orang yang binasa karena amalan (jelek)nya".[2]
Kemudian Sabdanya, "Mereka lalu tertahan di qonthoroh yang berada diantara surga dan neraka". Yang dimaksud dengan Qonthoroh secara bahasa ialah jembatan yang dibentangkan diatas sungai yang bisa dilewati. [3] Mungkin ada yang bertanya, "Seperti apa Qonthoroh itu dan bagaimana jalannya qishash tersebut yang terjadi diantara jembatan tadi. Apakah disana ada qishosh lagi selain dari qishosh yang dilakukan pada permulaan hari kiamat? Maka kita jawab, "Bahwa perkara-perkara seperti ini merupakan perkara ghaib yang tugas kita hanya mengimaninya saja, tidak ada keharusan untuk mengetahui tentang bagaimana proses kejadiannya. Sebab kita tidak mempunyai ilmu tentang shirat, hakekatnya seperti apa, begitu pula dalam masalah qonthoroh, terus bagaimana mereka tertahan disana, kita tidak mengetahuinya?   Karena hakekat akhirat itu tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah Shubhanahu wa ta'ala, namun, dengan ini setiap orang akan menjumpai perkara akhirat pada hari kiamat apabila mereka menyaksikan secara langsung perkaranya dengan mata kepala sendiri.
Imam Ibnu Katsir menerangkan, "Qonthoroh peristiwanya terjadi setelah (mereka)  melewati neraka. Bisa jadi qonthoroh ini berbarengan dengan peristiwa lain yang hanya Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mengetahuinya, sedang kita tidak mengetahui hal tersebut. Wallahu a'lam.[4] Sedang al-Hafidh Ibnu Hajar menyatakan, "Terjadi silang pendapat dikalangan para ulama dalam masalah ini, apakah qonthoroh itu merupakan tepi jembatan yang dibentangkan diatas neraka Jahanam ataukah dia merupakan jembatan sendiri secara terpisah, dan imam al-Qurthubi lebih condong kepada pendapat yang kedua".[5] Adapun sabdanya, "Kemudian mereka semua dihukumi satu sama lain atas kezaliman yang dahulu pernah mereka lakukan".
Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan, "Pembalasan ini bukan pembalasan yang pertama yang terjadi dipermulaan hari kiamat. Karena qishosh ini sifatnya lebih khusus yakni dengan tujuan menghilangkan rasa dendam dan dengki, serta permusuhan yang berada didada-dada manusia, sehingga qishosh ini kedudukannya sama persis sebagai penyuci dan pembersih, hal itu dilakukan, karena ganjalan yang ada dalam hati tidak mungkin bisa hilang secara sempurna hanya sekedar dibalas dengan qishosh (pertama). Maka qonthoroh yang berada diantara surga dan neraka tujuannya adalah untuk mensucikan isi hati mereka sehingga mereka masuk ke dalam surga benar-benar dengan hati bersih tanpa ada lagi iri dan dengki yang tersimpan".[6] Hal itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah ta'ala dalam firman -Nya:
﴿ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ إِخۡوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٖ مُّتَقَٰبِلِينَ ٤٧ [الحجر: 47]
"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan". (QS al-Hijr: 47).

Syakhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Jiwa yang jelek tidak pantas untuk menjadi penghuni surga, negeri yang penuh dengan kebaikan, yang tidak ada kejelekan sedikitpun disana. Sebab, dengan adanya kejelekan mengharuskan adanya kerusakan dan itu tidak mungkin terjadi didalam surga. Namun, apabila jiwa yang jelek tadi dibersihkan dan dijernihkan maka dirinya baru layak menjadi penduduk surga. Dan cara mensucikan dan memurnikan itu sama halnya dengan memurnikan emas sehingga bisa betul-betul murni. Dan hal itu telah diisyaratkan oleh sabdanya, "Sampai sekiranya benar-benar suci".
Sehingga menjadi jelas bahwa surga hanyalah dimasuki oleh orang-orang beriman setelah mereka dibersihkan dan dicuci dari sisa-sisa kotoran dosa, lantas bagaimana dengan orang yang tidak memiliki amal kebaikan akan mampu untuk melewati shirot".[7]
Maka selanjutnya apabila orang-orang beriman telah masuk ke dalam surga, mereka langsung mendatangi istana serta tempat tinggalnya, dengan penuh kebahagian, dengan sebab apa yang mereka peroleh di sisi Allah azza wa jalla. Dan mereka langsung dapat mengenali tempat tinggalnya masing-masing, bahkan dirinya lebih mengenali istananya dibanding dengan tempat tinggalnya dulu ketika didunia.





Fawaid Hadits:
1.         Keadilan Allah yang Maha Sempurna. Dimana seorang mukmin tidak akan masuk surga sedang dirinya masih punya hutang kezaliman pada saudaranya.
Dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Unais radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ -أَوْ قَالَ الْعِبَادُ- عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا. قَالَ: قُلْنَا وَمَا بُهْمًا. قَالَ: لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ, ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِنْ قُرْبٍ, أَنَا الْمَلِكُ, أَنَا الدَّيَّانُ, وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ حَتَّى اللَّطْمَةُ. قَالَ: قُلْنَا كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا. قَالَ: بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ » [أخرجه أحمد]
"Kelak manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat –atau beliau mengatakan, "Para hamba"- dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berkhitan dan buhman". Kami bertanya, "Apa itu buhman? Beliau menerangkan, "Tidak ada pakain yang menempel, kemudian mereka diseru dengan suara yang mampu didengar oleh orang yang berada ditempat yang jauh sama dengan yang berada didekat, "Akulah Maha Kuasa, Aku lah Maha Menguasai, tidak pantas bagi seorangpun dari penghuni neraka masuk ke dalamnya sedang ia masih punya hutang kepada seseorang dari penduduk surga sebelum  aku putuskan hukumannya, dan tidak layak bagi seorangpun dari penduduk surga masuk ke dalamnya, sedang mereka masih memiliki hutang pada penghuni neraka sebelum AKu memutuskan perkaranya, sampai sekiranya hanya satu pukulan. Kami bertanya, "Bagaimana itu terjadi, sedang kami datang menghadap Allah azza wa jalla dalam keadaan tidak beralas kaki, belum dikhitan dan telanjang? Beliau menjawab, "(Membayarnya) dengan kebaikan dan kejelekan". HR Ahmad 25/432 no: 16042.

Bahkan sampai binatangpun dihukumi satu sama lainnya, atas kezalimanan yang dahulu mereka saling lakukan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ » [أخرجه مسلم]
"Benar-benar akan dibalas semua hak dan dikembalikan pada ahlinya kelak pada hari kiamat. Sampai sekiranya didatangkan seekor kambing yang tidak bertanduk dengan kambing yang bertanduk". HR Muslim no: 2582.

2.         Wajib bagi tiap muslim untuk berusaha membebaskan dirinya atas tanggungan yang dimiliki pada orang lain dan meminta dihalalkan sebelum mendatangi mereka kelak pada hari kiamat, pada hari yang tidak ada lagi berguna dirham dan dinar, namun, pembayarannya menggunakan kebaikan dan kejelekan.
Seperti dijelaskan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ » [أخرجه البخاري]
"Barangsiapa mempunyai kezaliman pada orang lain, baik kehormatan atau yang lainnya, maka hendaknya dirinya meminta supaya dima'afkan pada hari ini, sebelum tidak ada berguna lagi dinar dan dirham, namun, bila dirinya punya amal sholeh maka diambilkan untuk saudaranya tersebut sesusai tingkat kezalimannya, dan jika dirinya sudah tidak menyimpan kebaikan sedikitpun maka diambilkan kejelekan saudaranya lalu ditimpakan kepadanya". HR Bukhari no: 2449.

3.         Bahwa surga tidak mugkin dimasuki oleh jiwa yang jelek, namun, hanya dimasuki oleh jiwa yang baik..
Allah tabaraka wa ta'ala menjelaskan hal itu melalui firman         -Nya:
"(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para Malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS an-Nahl: 32).

4.         Bahwa diantara kelaziman nikmat surga ialah dihilangkannya penyakit hati dari iri dan dengki serta permusuhan, sehingga mereka betul-betul merasakan kelezatan nikmat yang sempurna dan memperoleh kebahagian hakiki.
Allah azza wa jalla menjelaskan dalam firman -Nya:

﴿ وَنَزَعۡنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنۡ غِلّٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ وَقَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِيَ لَوۡلَآ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ ٤٣ [ الأعراف: 43 ]
"Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk". (QS al-A'raf: 43).

Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.







[1] . Tadzkirah hal: 292.
[2] . Fathul Bari 11/399.
[3] . Mu'jamul Wasith hal: 762.
[4] . Bidayah wa Nihayah 20/101.
[5] . Fathul Bari 11/399.
[6] . Syarh Aqidah al-Wasithiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 2/163.
[7] . Majmu Fatawa 14/345.