Rabu, 29 Januari 2014

Para Pelaku Maksiat Dikhawatirkan Akan Mati Dalam Su'ul Khatimah

Para Pelaku Maksiat Dikhawatirkan Akan Mati Dalam Su'ul Khatimah

Bila Anda perhatikan kondisi kebanyakan orang saat sakaratul maut menjemput, Anda akan melihat bahwa mereka terhalangi untuk mendapatkan husnul khatimah, sebagai hukuman akibat perbuatan-perbuatan jelek mereka. Al-Hafizh Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman Asy-Syibli berkata : 
"Ketahuilah bahwa su'ul khatimahitu -semoga Allah menjauhkan kita darinya- mempunyai penyebab-penyebab. Ada jalan-jalan dan pintu-pintu yang mengantarkan kepadanya. Penyebab, jalan dan pintu yang paling besar ialah larut dalam urusan keduniaan, tidak acuh dengan urusan akhirat dan berani melakukan maksiat kepada Allah. Bisa saja ada seseorang yang sudah terbiasa melakukan kesalahan atau maksiat tertentu, atau sudah terbiasa tidak acuh dan berani melakukan maksiat, sehingga menguasai hatinya, akalnya tertawan oleh kebiasaan tersebut, pelita hatinya padam dan terbentuklah hijabyang dapat menutupinya. Akibatnya, teguran tidak akan lagi berguna, nasihat tidak akan lagi bermanfaat dan bisa saja kematian datang menjemput saat dia dalam keadaan demikian. Lalu datanglah panggilan kebaikan dari sebuah tempat yang jauh, namun dia tidak dapat memahami maksudnya. Dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh panggilan itu, sekalipun orang yang meneriakkan panggilan itu terus mengulangi dan mengulanginya lagi." 
Diriwayatkan, bahwa ada seorang dari anak buah An-Nashir (salah seorang pemimpin di masa Abbasiyah) yang sedang didatangi oleh sakaratul maut, kemudian anaknya berkata: "Ucapkanlah, 'Laa Ilaaha Illallah!" Orang itu berucap: "An-Nashir adalah tuanku." Diulangilah permintaan itu kepadanya, namun jawaban orang itu tetap sama. Tiba-tiba orang itu tidak sadarkan diri dan setelah dia siuman, dia berucap lagi: "An-Nashir adalah tuanku." Begitulah terus menerus. Setiap kali dikatakan kepadanya ucapan "Laa Ilaaha Illallah"dia malah berucap: "An-Nashir adalah tuanku." Kemudian dia berkata pada anaknya: "Hai Fulan, sesungguhnya An-Nashir itu dapat mengenalmu hanya dengan pedang dan keberanianmu membunuh/ berperang", kemudian dia meninggal dunia. 
Abdul Haq berkata: "Pernah dikatakan juga pada orang lain -yang saya mengenalnya-: "Ucapkanlah 'Laa Ilaaha Illallah', tiba-tiba dia malah berucap: "Tolong rumah yang di sana itu diperbaiki dan kebun yang di sana itu, tolong di kerjakan ..." 
Abdul Haq juga berkata: "Diantara riwayat dari Abu Thahir As-Silafiy yang dia izinkan aku untuk meriwayatkannya, yaitu kisah bahwa ada seorang pria yang sedang sakaratul maut, kemudian dikatakan kepadanya: Ucapkanlah 'Laa Ilaaha Illallah'. Namun dia malah mengucapkan kata-kata dengan bahasa Persia yang artinya 'sepuluh dengan sebelas' (maksudnya, boleh berutang sepuluh tapi 
bayarnya sebelas, pent)." Dan pernah pula dikatakan pd orang lain lagi:Ucapkanlah 'Laa Ilaaha Illallah'.Dia malah mengatakan "Mana jalan ke pemandian Manjab?" (nama pemandian). Kata Abdul Haq: "Kata yang diucapkannya itu ada ceritanya. Suatu ketika ada seorang pria yang sedang berdiri di depan rumahnya. Rumah tersebut pintunya menyerupai pintu sebuah tempat pemandian, tiba-tiba lewat di situ seorang 
wanita cantik dan bertanya, 'Mana jalan ke pemandian Manjab? Dia menjawab (sambil menunjuk ke pintu rumahnya), 'Ini dia pemandian Manjab itu!' Maka, wanita itu pun masuk ke dalam rumahnya sampai ke belakang. Setelah dia sadar terjebak di rumah sang pria dan tahu bahwa dia sedang ditipu, dia pura-pura 
menampakkan rasa gembira dan suka citanya karena pertemuannya dengan pria itu. Kemudian wanita itu berkata, 'Sebaiknya (sebelum kita berkumpul), engkau harus mempersiapkan untuk kita apa-apa yang dapat membuat indah kehidupan kita sekaligus menyenangkan hati kita'. Dengan segera pria itu menjawab, 
'Sekarang juga aku akan membawakan untukmu semua apa yang kamu inginkan dan kamu senangi'. Lalu dia pergi ke luar dan meninggalkan si wanita dalam rumah, namun tidak menguncinya. Kemudian dia pun mengambil apa yang dia bisa bawa lalu kembali ke rumahnya. Tapi sayang, si wanita itu telah keluar dan 
pergi. Sedikitpun wanita itu tidak mengambil apa-apa dari rumahnya. Pria itu akhirnya menjadi mabuk kepayang dan selalu ingat pada wanita tadi. Dia berjalan di lorong-lorong dan gang-gang sambil mengatakan: 
"Ya Tuhanku, suatu hari, di kala sudah lelah dia bertanya, 'Mana jalan ke pemandian Manjab?'. 
Suatu saat, di waktu dia mengucapkan bait syair tadi, ada seorang wanita -dari jendela pintu rumahnya- berkomentar: "Mengapa -di saat sudah mendapatkannya- tidak dengan segera engkau menutup 
rumah itu atau mengunci pintunya?"
Mendengar itu, mabuk kepayangnya tambah menjadi-jadi. Begitulah terus kondisinya sehingga bait syair itu menjadi kata-kata terakhirnya saat meninggal dunia." 
Suatu malam, Sufyan Ats-Tsauri menangis sampai pagi. Di pagi itu, ada yang bertanya kepadanya: "Adakah semua yang kau lakukan ini karena takut akan dosa?" Lalu Sufyan mengambil segenggam tanah seraya berkata: "Dosa itu lebih ringan dari batu ini, aku menangis karena takut akan su'ul khatimah." 
Sungguh, ini adalah pemahaman yang sangat baik, bila seseorang itu khawatir bahwa dosa-dosanya akan membuatnya terhina di kala meninggal dunia nanti, sehingga dia terhalang untuk memperoleh husnul khatimah . 
Al-Imam Ahmad pernah menyebutkan bahwa Abu Darda' di saat sakaratul maut datang, dia pingsan tak sadarkan diri, kemudian dia siuman dan membaca: "Dan (begitulah) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka 
bergelimang dalam kesesatannya yang sangat."(Al-An'am: 110). 
Dan oleh karena itu, para ulama salaf khawatir kalau dosa-dosa itu dapat menghalangi mereka untuk memperoleh husnul khatimah. Abdul Haq juga berkata: "Ketahuilah bahwa su'ul khatimahitu -semoga kita dilindungi oleh Allah darinya- tidak akan terjadi pada orang yang secaralahir dia istiqamah dan secara batin dia shalih. Su'ul khatimahakan terjadi pada orang yang dasarnya sudah rusak atau senantiasa melakukan dosa besar dan mengerjakan kemaksiatan. Barangkali hal itu menjadi kebiasaannya, sehingga kematian datang menjemputnya sebelum sempat bertaubat, akhirnya dia meninggal sebelum memperbaiki dirinya, urat nadinya dicabut sebelum dia kembali pada Allah, sehingga saat itu setan berhasil merenggut dan menyambarnya di saat yang genting tersebut. Na'udzu billah!" Diriwayatkan bahwa -di Mesir- dulu ada seseorang yang selalu pergi ke mesjid untuk adzan dan melakukan shalat. Wajahnya berwibawa dan penuh cahaya ibadah. Suatu hari dia naik ke menara -seperti biasanya untuk adzan-. Di bawah menara itu ada rumah seorang Nashrani, dia melongok ke dalam rumah tersebut, dan melihat anak perempuan pemilik rumah itu akhirnya dia tergoda dengannya, lalu dia tinggalkan adzan saat itu, turun menemuinya, dan masuk ke dalam rumahnya. Anak perempuan itu bertanya: "Ada apa, apa yang kamu inginkan?" 
Dia menjawab: "Aku menginginkan kamu." Dia bertanya lagi: "Mengapa demikian?" 
Dia menjawab: "Sungguh, engkau telah menawan jiwaku dan menguasai seluruh relung hatiku." Perempuan itu berkata: "Aku tidak akan pernah memenuhi keinginanmu selamanya." Pria tadi menjawab: "Aku akan mengawinimu lebih dahulu." Perempuan itu berkata: "Engkau seorang muslim dan aku nashrani. 
Ayahku tidak akan mengawinkan aku denganmu. Lelaki itu berkata: "Aku akan masuk agama Nashrani!" Maka wanita itu berkata: "Jika kamu lakukan itu, maka aku mau!" Akhirnya lelaki itu resmi masuk Nashrani agar dapat kawin dengannya. 
Dia pun tinggal bersama mereka. Dan pada hari itu, dia naik ke loteng yang ada di rumah tersebut, kemudian dia jatuh dan langsung mati. Kasihan, dia tidak berhasil mendapatkan perempuan tersebut dan dia kehilangan agamanya." 
Diriwayatkan pula, ada seorang laki-laki yang senang kepada seseorang. Kesenangan dan kecintaannya sangat kuat, sehingga mampu menguasai hatinya. Bahkan, dia sampai jatuh sakit dan harus tidur beristirahat karenanya. Sementara orang yang dicintai itu tidak mau menemuinya. Dia benar-benar tidak 
suka dan menjauh darinya. Sementara itu, orang-orang terus berusaha mempertemukan keduanya, sehingga, dia pun berjanji untuk menemuinya. Orangorang datang membawa kabar tersebut, dia pun gembira dan sangat bersuka cita. Kesempitan di dadanya pun terasa hilang. Jadilah dia menunggu pada waktu yang 
sudah ditentukan untuknya. Di saat itu, tiba-tiba datang orang yang akan mempertemukan keduanya, lalu menyampaikan: "Dia sudah berangkat bersamaku sampai di tengah perjalanan, namun dia kembali lagi. Aku terus mendorong dan merayunya, tapi dia berkata, 'Orang itu ingat dan menyebut-nyebut aku dan dia 
pun gembira dengan kedatanganku. Namun aku tidak akan masuk ke tempat yang meragukan. Aku tidak akan mempersembahkan diriku untuk tempat-tempat yang mencurigakan.' Aku terus membujuknya, namun dia tidak mau dan terus pergi." 
Mendengar hal itu, orang yang sakit tadi langsung menjatuhkan diri dan kembali sakit dengan kondisi yang lebih parah lagi dari sebelumnya. Tanda-tanda kematian sudah tampak di wajahnya, saat itu dia mengatakan: 
Wahai Salm, wahai penenang hati yang sakit. Wahai obat bagi tubuh yang kurus. Keridhaanmu lebih diharapkan oleh hatiku ketimbang rahmat Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Mulia.
Maka (Abdul Haq Al-Asyibly) berkata kepadanya: "Wahai Fulan, takutlah engkau kepada Allah!!" Dia menjawab: "Semuanya sudah terjadi." Akhirnya aku meninggalkannya. Dan tidak sampai aku melewati pintu rumahnya, hingga aku mendengar dengan nyaring suara kematian. Kita berlindung kepada Allah dari su'ul khatimah. 

Senin, 06 Januari 2014

Optimisme Dan Berbaik Sangka Kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla

Optimisme Dan Berbaik Sangka Kepada Allah
Shubhanahu wa ta’alla
Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba'du:
Sesungguhnya sikap optimis dan berbaik sangka kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla merupakan perkara yang layak menjadi perhatian khusus bagi seorang mukmin yang harus terus dirawat dan dijaga. Karena cara bersikap semacam itu akan membantu dirinya untuk terus berkarya dan meraih kesuksesan yang ada dihadapannya. Seseorang yang optimis dirinya akan mempunyai harapan tinggi untuk meraih masa depan indah yang lebih baik dari keadaanya sekarang. Dengan berusaha keras mengganti kerugian yang pernah dialami, dan melewati masa-masa sulit yang menimpanya. Demi tercapainya cita-cita, perbaikan serta kesuksesan yang belum bisa direngkuh pada hari ini.
Imam al-Marwadi menjelaskan, "Optimisme akan menguatkan kemauan, melahirkan kekuatan, dan mendorong untuk memperoleh apa yang diinginkan. Dimana Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga begitu optimis didalam ekspedisi maupun peperangannya. Dan yang dimaksud dengan optimis ialah seorang mukmin berlapang dada, berprasangka baik serta mengharapkan bernasib baik".[1]
Ulama lain yang bernama Ibnu Atsir menjelaskan pula, "Optimisme gambarannya seperti seseorang yang sedang sakit lalu dirinya mengharapkan bernasib baik dengan ucapan orang yang dia dengar mengatakan, 'Hai, Salim'. Atau seseorang yang sedang kesulitan mencari barang hilang, lalu mendengar orang menyeru, 'Hai, orang yang mendapatkan'. Lantas tersirat dalam benaknya kalau dirinya akan segera sembuh dari sakitnya, dan akan segera menemukan barang yang hilang (karena mendengar ucapan-ucapan tadi)".[2] Lihat, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah diisolir, disakiti bahkan dikeluarkan dari negerinya, kekasihnya terbunuh, enam putranya meninggal dunia, namun, dengan itu semua beliau tetap optimis, sehingga disebutkan beliau menyukai nama yang bagus mengharap dengan nama tersebut berakibat baik pada pemiliknya.
Dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ» [أخرجه البخاري و مسلم]
"Sangat menakjubkan diriku pengharapan nasib baik dari sebuah ucapan yang bagus". HR Bukhari no: 5756. Muslim no: 2224.

Dibawakan oleh Imam Ahmad sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau menceritakan:
« كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَفَاءَلُ وَلَا يَتَطَيَّرُ وَيُعْجِبُهُ الِاسْمُ الْحَسَنُ » [أخرجه أحمد]
"Adalah Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengharap bernasib baik namun beliau tidak sampai meramalkannya. Dan beliau sangat suka dengan nama yang bagus". HR Ahmad 4/169 no: 2328.

Ada sebuah kisah yang dibawakan oleh Imam Bukhari dari Sa'id bin Musayib beliau menceritakan kepadaku bahwa kakeknya yang bernama Hazna (sedih) pernah berkunjung kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ketika bertemu beliau bertanya, "Siapa namamu? Hazna, jawabnya. Beliau bersabda, "Bagaimana kalau kamu ganti namamu menjadi Sahl (mudah)? Dia berkata, "Aku tidak mau merubah nama pemberian orang tuaku". Ibnu Musayib menjelaskan, "Dan kakekku tadi setelah itu, betul-betul selalu dalam kesedihan". HR Bukhari no: 6193.
Sebuah kisah lagi, tepatnya tatkala terjadi perjanjian Hudaibiyah. Manakala Suhail bin Amr datang menemui Nabi sebagai utusan orang kafir, maka tatkala Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya beliau berkata pada para sahabatnya, "Dia telah memudahkan urusan kalian". HR Bukhari no: 2731, 2732. Beliau merasa bernasib baik dengan kedatanganya karena namanya Suhail (mudah).
Sahabat Ibnu Abbas menjelaskan, "Perbedaan antara tafa'ul (optimis) dan thiyarah (meramal). Kalau tafa'ul itu melalui jalan prasangka baik pada Allah Shubhanahu wa ta’alla, sedang thiyarah tidaklah digunakan melainkan dalam keburukan". Oleh karenanya yang terakhir ini dilarang. [3] Imam al-Hulaimi mengatakan, "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat suka dengan sikap optimis, dikarenakan tasya'um (pesimis) merupakan prasangka buruk kepada Allah ta'ala. Sedang tafa'ul itu berprasangka baik kepada         -Nya. Dan seorang mukmin diperintah agar senantiasa berprasangka baik kepada Allah ta'ala pada tiap keadaan".[4]
Al-Baghawi menerangkan, "Kenapa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyukai sikap optimis karena didalamnya terkandung pengharapan pada kebaikan serta manfaat yang ada dibaliknya. Sedang berharap memperoleh kebaikan itu lebih utama bagi seseorang dari pada pesimis dan menganggap sudah putus harapannya". [5] Dan tafa'ul (optimisme) ialah dengan berprasangka baik kepada -Nya. Dan seorang mukmin diperintah agar senantiasa berprasangka baik kepada Allah ta'ala pada tiap keadaan. Dimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah membimbing umatnya agar selalu memiliki prasangka baik kepada Allah azza wa jalla.
Dijelaskan dalam hadits Qudsi yang dibawakan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي إِن ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ » [أخرجه أحمد]
"Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta'ala berfirman, "Aku sesuai dengan prasangka yang ada pada hamba -Ku, jika dirinya berprasangka baik maka (balasannya) semacam itu, dan jika dirinya berprasangka buruk (balasannya) juga serupa". HR Ahmad no: 9076.

Bahkan prasangka baik itu ditegaskan harus selalu menyertai seseorang hingga menjelang ajal. Dijelaskan dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim dari Jabir radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ » [أخرجه مسلم]
"Janganlah kalian meninggal dunai melainkan dirinya tetap berprasangka baik kepada Allah azza wa jalla". HR Muslim no: 2877.

Para ulama menjelaskan, "Yang dimaksud dengan berbaik sangka kepada Allah Shhubhanahu wa ta’alla ialah dirinya selalu berbaik sangka pada -Nya bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memberi rahmat dan mengampuninya". [6]
Bila kita perhatikan kisah perjalanan para Rasul  'alaihim sallam, dan orang-orang shaleh yang datang sesudahnya, kita jumpai mereka adalah orang-orang yang punya optimisme tinggi ketika menghadapi tiap pergolakan hidup baik musibah atau pun kesulitan. Lihatlah, pada kisahnya nabi Musa bersama kaumnya manakala mereka terjebak dalam kejaran Fir'aun dengan bala tentaranya dan lautan luas menghadang dihadapannya sedang musuh berada dibelakangnya. Akan tetapi beliau sangat optimis dan selalu berbaik sangka kepada Rabbnya. Sehingga Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabadikan kisahnya dalam al-Qur'an:
﴿ فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلۡجَمۡعَانِ قَالَ أَصۡحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدۡرَكُونَ ٦١ قَالَ كَلَّآۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ ٦٢﴾ [ الشعراء: 61-62]
"Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". (QS asy-Syu'araa: 61-62).

Kisah lain, Ummu Isma'il Hajar ketika ditinggal oleh suaminya Ibrahim di negeri tandus yang tidak berpenghuni bersama anaknya Isma'il, negeri Makah yang kondisinya pada saat itu belum ada orang, dan tidak ada mata air yang bisa diminum, lantas suaminya Ibrahim meninggalkan mereka berdua disana. Dirinya cuma meninggalkan kantong yang berisi air dan kurma disisi istri dan anaknya, kemudian beliau bertolak pergi meninggalkan keduanya, melihat hal itu maka Ummu Isma'il berdiri mengejarnya sembari bertanya, "Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak bertuan ini? Dirinya bertanya seperti itu berulang-ulang, namun suaminya tidak menoleh sedikitpun. Maka diakhir pertanyaanya dia bertanya, "Apakah Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menyuruhmu hal ini? Beliau baru menjawab, "Ya". Kalau demikian pasti Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak akan menyia-yiakan kami, katanya. HR Bukhari no: 3364.
Tidak ketinggalan juga, Ummul mukminin Khadijah bin Khuwailid radhiyallahu 'anha, tatkala turun wahyu pada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu suaminya pulang ke rumah dalam keadaan ketakutan sembari berkata, "Selimuti aku, selimuti aku, sungguh aku sangat khawatir akan keselamatanku". Maka dengan tegas istrinya menenangkan, "Sekali-kali tidak akan demikian! Demi Allah, -Dia tidak akan menghinakanmu selamanya. Sungguh engkau penyambung tali kerabat, pemikul beban orang lain yang mendapat kesusahan, pemberi orang papa, penjamu tamu, serta pendukung setiap upaya penegakan kebenaran". HR Bukhari no: 3.
Dan Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau adalah orang yang paling tinggi optimisnya serta berbaik sangkanya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebuah kisah dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwasannya beliau  bercerita pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, "Apakah engkau pernah menghadapi suatu hari yang lebih berat daripada perang uhud? Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِى عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلاَلٍ فَلَمْ يُجِبْنِى إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِى فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلاَّ بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِى فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِى فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِى فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ قَالَ فَنَادَانِى مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَىَّ. ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ وَقَدْ بَعَثَنِى رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِى بِأَمْرِكَ فَمَا شِئْتَ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الأَخْشَبَيْنِ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا » [أخرجه مسلم]
"Aku pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kaummu, tetapi perlakuan mereka yang paling berat yang aku rasakan adalah pada waktu di Aqabah ketika aku menawarkan diriku pada Ibnu Abd Yalail bin Abd Kallal tetapi dia tidak menanggapi apa yang aku inginkan sehingga aku beranjak dari sisinya dalam keadaan sedih. Aku tidak lagi menyadari apa yang terjadi kecuali setelah dekat dengan tempat yang bernama Qarn ats-Tsa'alib. Waktu aku mengangkat kepalaku tiba-tiba datang segumpal awan menaungiku, lalu aku melihat ke arahnya dan ternyata di sana ada Jibril yang memanggilku.
Dia berkata, "Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan tanggapan mereka terhadapmu. Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan kepadanya sesuai keinginanmu terhadap mereka".
Malaikat penjaga gunung tersebut memanggilku dan memberi salam kepadaku, kemudian berkata, "Wahai Muhammad, Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan tanggapan mereka terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung yang Allah utus untuk engkau perintahkan sesuai keinginanmu terhadap mereka. Jika engkau menghendaki aku meratakan mereka dengan al-Akhasyabain (dua gunung besar diMakah) maka akan aku lakukan".
Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum yang menyembah Allah ta'ala semata, dan tidak menyekutukan -Nya dengan sesuatupun". HR Muslim no: 1795.

Didalam shahih Bukhari dikisahkan dari Aisyah tentang ayahnya, beliau menceritakan, "Tatkala Abu Bakar berada ditengah-tengah Ibnu ad-Daghinah yang memberi perlindungan padanya, beliau membuat masjid dihalaman rumahnya. Lalu secara terang-terangan beliau kerjakan sholat dan membaca al-Qur'an disana, maka hal itu membikin geram orang Quraisy sehingga mereka berusaha mempengaruhi Ibnu ad-Daghinah supaya Abu Bakar tidak melakukan hal itu lagi. Mereka berkata, "Kami takut suaranya akan memfitnah anak-anak dan para wanita kami".
       Lalu Ibnu ad-Daghinah beranjak pergi pada Abu Bakar kemudian berkata, "Silahkan engkau tidak mengerjakan urusanmu lagi atau engkau memilih tetap berada disampingku. Sungguh aku tidak enak kalau penduduk kota ini membicarakan diriku yang telah membuat lari sahabatku yang telah aku lindungi".
      Abu bakar menjawab, "Aku lebih suka pergi meninggalkanmu dan memilih berada disisi Allah azza wa jalla". HR Bukhari no: 3905.

       Diantara kisah yang dinukil pada kita yang menjelaskan tentang optimisme ialah peristiwa yang terjadi pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dikisahkan, pada tahun 702 H, tentara Tatar memobilisasi pasukanya untuk menyerang negeri Syam, mendengar itu Ibnu Taimiyah mengabarkan pada manusia dan penguasa bahwa bencana dan kekalahan akan musuh rasakan, sedang kemenangan akan diperoleh oleh kaum muslimin. Ucapannya tersebut beliau barengi dengan sumpah kepada Allah sebanyak tujuh puluh kali. Maka ada yang mengingatkan beliau, "Katakanlah insya Allah". Beliaupun berkata, "Insya Allah, pasti akan terjadi tidak aku ragukan sedikitpun".
Ibnu Qoyim menuturkan, "Aku mendengar beliau mengucapkan hal itu, manakala banyak orang-orang yang membicarakan ucapan beliau, maka aku katakan pada mereka, "Kalian jangan banyak menyoal ucapan beliau, catatan Allah Shubhanahu wa ta’a’alla telah tetap di Lauh Mahfud kalau mereka akan kalah di negeri ini. Dan kemenangan bagi pasukan kaum muslimin. Beliau melanjutkan, "Maka sebagian pemimpin dan pasukan sudah bisa merasakan manisnya kemenangan sebelum kepergin mereka bertarung bersama tentara musuh. Maka benar kemenangan diraih oleh kaum muslimin. Allah ta'ala menyatakan dalam firman -Nya:

﴿ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ ٢١٤ ﴾ [ البقرة: 214]
"Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (QS al-Baqarah: 214).

Allah ta'ala juga mengatakan:

﴿ وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٤٧  ﴾ [ الروم: 47]
"Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman". (QS ar-Ruum: 47).[7]

Diantara kisah lain yang menerangkan hal itu juga, bahwa Syaikh Syamsudin yang menjadi punggawa, ditugaskan untuk mendidik Sulthan Muhammad Fatih al-Utsmani kecil. Dikisahkan, beliau pernah membawa Sulthan Muhamamd yang masih kecil ketika itu berjalan-jalan di tepi pantai, sambil menggandeng tangannya, kemudian disana beliau menunjuk pada bangunan kostantinopel yang nampak jelas dari kejauhan menjulang tinggi diantara benteng-bentengnya. Setelah itu beliau berkata pada sang Sulthan, "Apakah baginda melihat kota itu yang bangunannya menjulang tinggi dilangit, itu adalah Kostantinopel, sungguh telah mengabarkan pada kita Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa akan ada seseorang dari kalangan umatnya yang akan menaklukan mereka dengan bala tentaranya lalu menyatukan mereka didalam panji tauhid. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Sungguh Kostantinopel pasti akan dapat ditaklukan, dan sebaik-baik pemimpin pada saat itu ialah yang memimpin pasukan ke sana, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut". [8]
Mendengar hal itu maka sang Sulthan kecil merasa optimis dan bertekad dengan mengumpulkan segalanya untuk menjadi orang yang mampu menaklukan negeri tersebut, dan menjadi orang yang dikabarkan dalam hadits yang mendapat kabar gembira dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Manakala datang waktunya, dan dirinya telah diangkat menjadi Khalifah maka dirinya bergegas untuk mengadakan perundingan dengan pembesar Kostantinopel supaya mereka menyerah tanpa bersyarat. Ketika benar hal itu dilakukan, mereka langsung menolaknya, tidak rela menyerahkan kota mereka kepada kaum muslimin.
Maka Muhammad Fatih sang khalifah dengan penuh optimis berkata, "Baik, tidak lama lagi disana ada dua pilihan untukku, aku memiliki singgasananya atau lahat untuk jenazahku". Kemudian khalifah Muhammad al-Fatih mengepung Kostantinopel selama lima puluh satu hari. Selang waktu itu sesekali terjadi beberapa pertempuran yang sangat sengit sampai akhirnya kota benteng tersebut yang dulunya enggan untuk tunduk, berhasil jatuh ditangan sang pemuda pemberani yang  usainya pada saat itu baru dua puluh tiga tahun.
Diantara kisah lain, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muqri Abdullah bin Ahmad bin Sa'id, beliau mengatakan, "Aku pernah sakit keras, dulu ketika di Damaskus. Maka Ibnu Taimiyah datang menjengukku, lalu beliau duduk disampingku, sedang kondisiku saat itu sangat berat menahan sakit, beliau lantas mendo'akan diriku lalu berkata, "Akan datang kesembuhan'. Tidak selang sampai berdiri, tiba-tiba kesembuhan menyapaku, seketika itu aku diberi kesembuhan". [9]

Faidah sikap optimis dan baik sangka kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla:
Pertama: Membawa kebahagian dan kesenangan di dalam hati. Sebaliknya akan menghilangkan kesedihan dan kegundahan. Dan semua perkara ini diajarkan oleh agama kita.
Dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ » [أخرجه البخاري]
"Ya Allah, aku berlindung kepada -Mu dari kegundahan dalam hati dan kesedihan". HR Bukhari no: 2893.

Kedua: Dengannya akan menguatkan kemauan, mendorong meraih cita-cita dan menumbuhkan kesungguhan dalam berkarya. Allah Shubhanahu wa ta'ala berfirman:

﴿ وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ ١٠٥﴾ [ التوبة: 105]
"Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul -Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu". (QS at-Taubah: 105).

Dibawakan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ » [أخرجه مسلم]
"Mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah. Dan pada keduanya ada kebaikan. Berusahalah untuk mencari apa yang memberi manfaat padamu, lalu mintalah tolong kepada Allah jangan loyo. Dan jika engkau terkena musibah jangan berkata, 'Kalau seandainya aku begitu tentu tidak akan begini'. Namun, katakan, "Apa yang Allah takdirkan pasti terjadi. Sesungguhnya ucapan 'seandainya' akan membuka tipu daya setan". HR Muslim no: 2664.

Ketiga: Mengikuti sunah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau sangat menganjurkan untuk bersikap optimis.
Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.





[1] . Adabu Dunya wa Diin hal: 319.
[2] . Nihayah fii Gharibil Hadits 3/406.
[3] . Fathul Bari 10/215.
[4] . Fathul Bari 10/215.
[5] . Syarh Sunah 12/175.
[6] . Syarh shahih Muslim 6/210.
[7] . al-Jaami' li Sirati Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah hal: 415.
[8] . Penggalan hadits yang dibawakan oleh Syaikh Syamsudin. Yang dijadikan sebagai dalil akan keutamaan pasukan yang menaklukan Kostantinopel adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah dari ayahnya Ahmad bin Hanbal didalam kitab Zawaid Musnad 31/287 no: 18957. dari haditsnya Bisyr al-Khats'ami radhiyallahu 'anhu. Dan hadits ini dinilai lemah oleh sebagian pakar hadits. Adapun tentang keutamaan orang yang menaklukan kota Kostantinopel maka telah tetap beritanya sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits shahih yang lainnya.
[9] . al-Jaami' li Sirati Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah hal: 688.

Jauhi Ghibah!

Jauhi Ghibah!
Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba'du:
Telah menyebar dikalangan kaum muslimin penyakit akut yang telah diperingatkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya supaya dijauhi.  Sesungguhnya dia adalah pemangkas amal yang merobohkan, menjauhkan kawan, pemicu perselisihan dan permusuhan, sebagaimana juga telah digabungkan oleh para ulama masuk dalam kategori dosa besar, namun, sayang sangat sedikit muslim yang bisa selamat darinya, kecuali orang yang mendapat rahmat dari  Allah azza wa jalla, penyakit itu adalah ghibah (mengunjing orang).
Dan peringatan tersebut ialah firman Allah ta'ala didalam firman -Nya:
﴿ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ ١٢﴾ [ الحجرات: 12]
"Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya".  (QS al-Hujurat: 12).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dijelaskan tentang definisi ghibah secara gamblang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada para sahabatnya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ. قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ. قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ » [أخرجه مسلم]
"Tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab: "Allah dan Rasul -Nya yang lebih mengetahui". Lantas beliau menjelaskan: "(Ghibah) itu ialah engkau menyebut (keburukan) saudaramu yang ia tidak suka". Ada yang bertanya: "Bagaimana sekiranya, jika yang ada pada saudaraku itu memang benar seperti yang ku katakan? Beliau menambahkan: "Jika benar ada padanya apa yang engkau katakan itulah yang namanya ghibah. Dan jika sekiranya apa yang engkau katakan tidak ada pada saudaramu, itu namanya dusta". HR Muslim no: 2589.

Imam Tahanawi menjelaskan: "Ghibah ialah engkau menyebut-yebut saudaramu dengan perkara yang ia benci kalau seandainya berita tersebut sampai padanya, baik engkau menyebut tentang kekurangan yang ada pada tubuh atau pada lisannya. Demikian pula tatkala engkau menyebut tentang kekurangan yang ada pada postur tubuh, kelakuanya, ucapan, agama, harta, anak, pakaian, rumah atau kendaraanya. Jadi, ghibah itu tidak khusus hanya terpaku pada ucapan saja, namun, ghibah juga bisa berlaku pada perbuatan, yaitu dengan menirukan gerakan tubuhnya atau menggunakan isyarat maupun dengan tulisan". [1]
Dalam firman Allah ta'ala yang dahulu disebutkan bahwa orang yang berghibah ria itu diserupakan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla seperti halnya orang yang sedang memakan daging bangkai saudaranya, Allah ta'ala menyebutkan:

﴿ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ ١٢﴾ [ الحجرات: 12]
"Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya".  (QS al-Hujurat: 12).

Maksudnya sebagaimana kalian juga membenci perbuatan diluar kebiasaan manusia ini, tentunya kalian juga tidak suka kalau sampai melakukannya. Maka, perlu diketahui bahwa balasan orang yang mengunjing itu lebih keras dari pada perumpaan ini. Sehingga bagi orang yang berakal tentunya ayat ini sebagai bentuk peringatan dan cambuk untuk segera berpaling dari kebiasaan buruk tersebut. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma, beliau mengkisahkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَارْتَفَعَتْ رِيحُ جِيفَةٍ مُنْتِنَةٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَدْرُونَ مَا هَذِهِ. الرِّيحُ هَذِهِ رِيحُ الَّذِينَ يَغْتَابُونَ الْمُؤْمِنِينَ » [أخرجه احمد]
"Kami pernah bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu datang angin dengan membawa bau busuk disekeliling kami. Maka, beliau bertanya kepada kami pada saat itu: "Tahukah kalian dari mana datangnya angin ini? Angin (yang membawa bau busuk) ini datang dari orang-orang yang sedang berghibah ria terhadap orang-orang yang beriman". HR Ahmad 23/97 no: 14784.

Bahkan, disebutkan balasan bagi orang yang senang ghibah ialah akan diadzab didalam kuburnya sebelum siksaan yang akan diperoleh dihari kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam haditsnya Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرَّ عَلَى قَبْرَيْنِ. فَقَالَ: مَنْ يَأْتِينِي بِجَرِيدَةِ نَخْلٍ. قَال:َ فَاسْتَبَقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ آخَرُ فَجِئْنَا بِعَسِيبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ فَجَعَلَ عَلَى هَذَا وَاحِدَةً وَعَلَى هَذَا وَاحِدَةً ثُمَّ قَالَ: أَمَا إِنَّهُ سَيُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا كَانَ فِيهِمَا مِنْ بُلُولَتِهِمَا شَيْءٌ. ثُمَّ قَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ فِي الْغِيبَةِ وَالْبَوْلِ » [أخرجه أحمد]
"Aku pernah berjalan bersama Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lantas kami melewati dua kubur. Beliau lalu meminta kepada kami: "Siapa yang mau mengambilkan untukku pelepah kurma? Abu Bakrah mengatakan: "Maka aku bersegera untuk mendapatkannya bersama sahabat yang lain".  Selanjutnya kami bawakan pelepah kurma, kemudia beliau membelahnya menjadi dua, lalu beliau menjadikan yang sebelah pada kubur yang satu dan yang sebelah untuk satunya lagi. Kemudian beliau bersabda: "Adapun sungguh akan diringankan (siksa) keduanya selagi pelepah kurma ini sebelum kering. Sesungguhnya keduanya sedang disiksa karena (ketika didunia) senang ghibah dan (tidak bersuci) ketika kencing". HR Ahmad 23/53 no: 20411.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Adapun salah satunya (dirinya disiksa) karena senang mengadu domba. Sedang yang satunya lagi karena tidak menutup aurat tatkala kencing". HR Bukhari no: 1378. Muslim no: 292.

Al-Hafidh Ibnu Hajar menjelaskan: "Dan ghibah itu bisa dijumpai pada sebagian kasus mengadu domba (namimah). Yaitu dengan menyebut saudaranya manakala tidak hadir dihadapanya dengan perkara yang menjelekan dirinya, supaya timbul kerusakan yang ia inginkan. Maka hal ini, mungkin sekali terjadi sebagaimana kisah penghuni kubur yang disiksa dalam kuburnya.
Kemungkinan lain dari makna hadits ini, sebagaimana dijelaskan dalam beberapa redaksi lain yang menjelaskan tentang siksaan itu berkaitan dengan ghibah, seperti hadits yang lalu. Yang jelas, bisa jadi kisahnya sama atau adanya kemungkinan pada kejadian yang berbeda". [2] Bukan hanya cukup dikubur, mereka orang yang senang ghibah itu juga akan disiksa pada hari kiamat. Hal itu, berdasarkan sabdanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَمَّا عَرَجَ بِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ » [أخرجه أحمد]
"Tatkala aku di mi'rajkan oleh Rabbku, aku melewati sekelompok orang yang mereka mempunyai kuku tembaga yang digunakan untuk mencabik-cabik wajah dan dada mereka. Aku pun bertanya: "Siapakah mereka itu, wahai Jibril? Dia menjelaskan: "Mereka adalah orang-orang yang (dulu) suka memakan dagingnya manusia (ghibah) dan mencabik-cabik kehormatan orang". HR Ahmad 21/53 no: 13340.

Namun sayangnya ghibah ini sudah menjadi barang biasa dan diremehkan oleh sebagian orang sehingga berubah menjadi 'buah atau makanan' pada sebuah majelis, sedang dosa ghibah ini disisi Allah Shubhanahu wa ta’alla sangatlah besar. Allah ta'ala memperingatkan kita dalam firman -Nya:

 ﴿ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ١٥ ﴾ [ النور: 15]
"Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar". (QS an-Nuur: 15).

Dibawakan oleh Imam Abu Dawud dan Tirmidzi sebuah hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau menceritakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قلت للنبي صلى الله عليه و سلم حسبك من صفية كذا وكذا قال غير مسدد تعني قصيرة. فقال: لقد قلت كلمة لو مزجت بماء البحر لمزجته. قالت: وحكيت له إنسانا.  قال: ما أحب أني حكيت إنسانا وأن لي كذا وكذا » [أخرجه أبو داود والترمذي]
"Aku pernah mengatakan pada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam: "Cukuplah kalau Shafiyah ini begini dan begitu. Maksudnya berbadan pendek! Maka beliau bersabda: "Sungguh dirimu telah mengucapkan sebuah kalimat yang sekiranya dihapus dengan air laut tidak akan sanggup menghapusnya". Pernah juga aku menceritakan seseorang dihadapan beliau, lantas beliau berkata: "Aku tidak suka aku menceritakan tentang orang lain, dan pada diriku begini dan begitu".  HR Abu Dawud no: 4875. at-Tirmidzi no: 2520. Beliau berkata hasan shahih.

Diantara sebab munculnya ghibah ini ialah basa basi terhadap teman atau saudara, serta ikut larut dalam pembicaraan mereka ketika sedang mengunjing orang. Adapun penyembuhannya yaitu dengan cara memarahi padanya manakala menyebut keburukan orang yang sedang dijadikan bahan ghibah. Dan mengingatkan supaya tidak mengejek, mengolok-olok serta merendahkan orang lain, demikian pula tidak iri terhadap orang yang mendapat pujian serta disebut-sebut orang banyak akan kebajikannya. [3]
Imam Nawawi mengatakan: "Ketahuilah, hendaknya bagi orang yang mendengar saudaranya muslim digunjing untuk membela serta mencegah pelakunya, kalau tidak mempan dengan ucapan maka cegahlah dengan tanganmu. Jika belum juga mampu mencegahnya dengan tangan dan lisan, maka, segera tinggalkan majelis tersebut. Dan seandainya dia mendengar gunjingan tersebut diarahkan pada gurunya atau orang lain yang mempunyai hak baginya, atau orang sholeh dan ahli ilmu, maka apa yang kami paparkan dimuka lebih ditekankan lagi". [4] Hal tersebut mengacu pada firman Allah tabaraka wa ta'ala:

﴿ وَإِذَا سَمِعُواْ ٱللَّغۡوَ أَعۡرَضُواْ عَنۡهُ وَقَالُواْ لَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ لَا نَبۡتَغِي ٱلۡجَٰهِلِينَ ٥٥  ﴾ [ القصص: 55]
"Dan apabila mereka mendengar Perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi Kami amal-amal Kami dan bagimu amal-amalmu, Kesejahteraan atas dirimu, Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil". (QS al-Qashash: 55).

Berkata al-Ghazali: "Adalah para sahabat mereka biasa bersua dengan orang banyak, namun tidak menjadikan mereka sebagai lahan untuk mengunjing orang yang tidak hadir dihadapan mereka, bahkan, mereka menganggap hal tersebut merupakan amal sholeh yang paling utama. Serta memasukan dalam barisan orang munafik bagi orang yang sedang ghibah".[5] Sebagian ulama mengatakan: "Kami menjumpai ulama salaf mereka tidak beranggapan ibadah itu hanya pada puasa dan sholat semata, akan tetapi, ketika menahan lisan untuk tidak mencabik kehormatan orang, maka itu juga ibadah".[6]
Imam Bukhari mengatakan tentang dirinya: "Aku berharap semoga ketika bertemu Allah Shubhanahu wa ta’alla, Dia tidak menghisabku dalam barisan orang yang mengghibah orang lain".[7] Imam Dzahabi mengomentari ucapan beliau dengan mengatakan: "Sungguh benar ucapan beliau. Barangsiapa yang mau meneliti ucapannya dalam masalah jarh wa ta'dil, dirinya akan paham bagaimana sikap kehati-hatian beliau didalam membicarakan orang lain dan sangat santun didalam menyebut (perawi hadits) yang lemah, dimana seringkali beliau hanya mengatakan: "Munkarul hadits, atau para ulama mendiamkannya, atau dalam perawi ini perlu diteliti, atau yang semisal ucapan ini. dan sangat sedikit beliau mengatakan: "Fulan pendusta, atau dirinya pemalsu hadits". Sampai sekiranya beliau memberi kaidah, jika aku berkata: 'Fulan didalam haditsnya perlu diteliti, maksudnya adalah rawi yang tertuduh pemalsu hadits".
Inilah makna ucapan beliau diatas: "Aku berharap semoga ketika bertemu Allah Shubhanahu wa ta’alla, Dia tidak menghisabku dalam barisan orang yang mengghibah orang lain". Inilah, demi Allah yang dinamakan sikap wara'. [8]Imam Muhammad bin Abi Hatim al-Waraq mengatakan: "Aku pernah mendengar beliau mengatakan: "Aku tidak pernah mengghibah seorang pun semenjak aku mengetahui bahwa ghibah itu merusak pelakunya".

Boleh ghibah?
Para ulama telah memberikan pengecualian pada beberapa kasus yang dibolehkan untuk ghibah didalamnya, dengan menyimpulkan pada enam keadaan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi, yaitu:
1.         Mengadukan kelaliman (ketidak adilan).
Maka dibolehkan bagi orang yang dizalimi untuk mengadu pada penguasa atau hakim atau selain keduanya, yang mempunyai kekuasaan serta dikiranya mampu untuk menolong serta menghukum orang yang menzaliminya. Yaitu dengan mengatakan pada mereka: "Orang itu telah berbuat zalim padaku pada perkara ini..".
2.         Meminta bantuan untuk merubah kemungkaran dan menuntun pelaku maksiat agar kembali kejalan yang benar.
Boleh mengatakan pada orang yang dianggap mampu untuk menghilangkan kemungkaran: "Fulan melakukan ini dan itu tolong dicegah". atau ucapan yang senada dengan ini. Yang penting bisa tercapai maksud agar kemungkaran tadi hilang. 
3.         Memohon fatwa.
Yaitu dengan mengatakan kepada pemberi fatwa: "Ayahku atau saudaraku atau suamiku telah berbuat lalim padaku, apakah boleh aku menuntutnya? Apa solusiku agar bisa lepas darinya dan memperoleh hakku serta mencegah kelalimannya? Atau ucapan yang semisal ini.
4.         Memperingatkan kaum muslimin atas keburukan seseorang. Dalam hal ini bisa dari beberapa sisi. Semisal memberi kritikan pada para perawi hadits serta bersaksi atas kejelekannya. Dalam hal ini, maka dibolehkan sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama. Meminta pendapat tentang kondisi seseorang yang meminang puterinya. Atau orang yang ingin diajak bisnis atau muamalah lainnya. Maka, wajib bagi orang yang dimintai pendapat bila mengetahui keadaannya memberikan pendapat tersebut, sambil menyebutkan sisi kebaikan dan keburukan orangnya, dengan niatan ingin memberi nasehati padanya.
Diantaranya pula, jika melihat ada seorang pelajar yang bolak-balik datang kepada ahli bid'ah atau orang fasik untuk menuntut ilmu padanya. Dan ditakutkan dirinya akan terkena racun pemikirannya. Maka, wajib bagi dirinya untuk menasehati sambil menjelaskan jati diri orang tersebut, dengan catatan dia niatkan hanya memberi nasehat. Seseorang yang diberi amanah untuk pegang kekuasaan, namun, tidak melaksanakan sebagaimana mestinya. Bisa karena memang bukan ahli dibidangnya. Atau disebabkan dirinya fasik atau merasa masa bodoh, atau sebab lainnya. Maka, wajib untuk mengadukan pada atasannya atau orang yang punya kekuasan lebih diatasnya supaya diperbaiki atau diganti dengan pemimpin yang lebih baik.
5.         orang yang terang-terangan berbuat maksiat atau bid'ah.
Seperti halnya, orang yang terang-terang minum khamr, pemungut atau penarik pajak. Maka dalam hal ini, kita sebutkan keburukannya saja, tanpa menyebutkan kekurangan yang lainnya.
6.         Pengenalan.
Maksudnya, jika ada orang yang memang dikenal dengan julukan 'si tuli' atau 'si buta' atau 'si pincang' atau 'si rabun'. Dan sebagainya, maka boleh menyebut mereka dengan julukan-julukan tersebut. namun, terlarang bila di maksudkan untuk merendahkannya. Dan kalau sekiranya mampu mengenalkan dengan selain julukan tersebut maka itu lebih utama. [9]
                Inilah enam kondisi yang disebutkan oleh para ulama bolehnya ghibah, bahkan, kebanyakan kondisi ini disepakati oleh mereka, sedang dalilnya adalah hadits-hadits yang shahih. Dan Jumhur ulama mengatakan: "Cara taubatnya seorang yang terlanjur berghibah ialah dengan meninggalkan perbuatan cela itu, bersungguh-sungguh tidak ingin mengulangi kembali, serta meminta maaf pada orang yang pernah digunjingnya". Sebagian ulama mengatakan: "Tidak disyaratkan untuk meminta maaf, karena bisa jadi kalau dikabarkan padanya akan mengakibatkan keburukan yang lebih besar dari pada kalau dirinya tidak dikasih tahu. Maka, caranya yaitu dengan memuji kebaikan orang yang pernah digunjing di majelis yang sama ketika dulu mengunjingnya. Serta menolak sebisa mungkin orang yang ingin menjelek-jelekan orang tersebut. Maka itu sebagai balasan bagi perbuatanmu ketika dulu menggunjingnya".[10]

Catatan:
Termasuk perkara terbesar yang bisa membuat kapok seorang mukmin dari penyakit ghibah, selain dari ayat-ayat dan hadits-hadits populer yang mencela dan memberi peringatan keras bagi para pelaku ghibah, ialah mengingat bahwa kelak orang yang digunjing akan diberi hadiah dari amal sholatnya, puasa, haji serta ibadah lainnya. Atau akan dipikulkan dosa dan kejelekan orang tadi kalau sekiranya amal kebaikannya belum mencukupi untuk melunasi orang yang dulu pernah digunjing. Maka, ini sudah cukup, karena merupakan kerugian terbesar serta kebangkrutan total sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya.
Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.








[1]. Kasyaaf  Isthilahaat al-Funun 3/1091.
[2] . Fathul Bari 10/470-471.
[3] . Ihya Ulumudin hal: 155-156.
[4] . al-Adzkar hal: 304.
[5] . Ihya Ulumudin 3/152.
[6] . Idem.
[7] . Siyar 'alamu Nubala 12/439.
[8] . Siyar 'alamu Nubala 12/439-441.
[9] . Riyadhus Shalihin hal: 488-490.
[10] . Tafsir Ibnu Katsir 13/167.