Rabu, 23 April 2014

Penyebab Tumbuhnya Tauhid Di Dalam Hati



Tauhid ibarat pohon yang tumbuh dalam hati seorang mukmin. Cabangnya meninggi dan bertambah besar. Bertambah keindahannya manakala disiram dengan ketaatan yang mendekatkan kepada Allah Azza wajalla. Sehingga cinta hamba bertambah kepada Tuhan -Nya, bertambah takut dan harap kepada -Nya, serta menjadi kuat tawakal kepada -Nya. Dengan demikian, tauhid menjadi sempurna dan terealisai. Merealisasikannya bukan dengan angan-angan, tidak juga dengan klaim yang kosong dari kenyataan.
Terealisasi dengan apa yang tertanam di dalam hati dari keyakinan iman, hakikat ihsan, dibarengi dengan akhlak yang indah dan amal-amal saleh yang mulia.
Di antara penyebab tumbuhnya tauhid di dalam hati sebagai berikut[1]:
1.       Melakukan ketaatan; mengharap apa yang ada di sisi Allah Shubhanahu wa ta’alla.
2.       Meninggalkan maksiat; takut dari sanksi -Nya.
3.       Merenungi apa-apa yang ada dalam kerajaan langit dan bumi.
4.       Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat -Nya, esensi dan pengaruhnya serta apa-apa yang menunjukkan akan kemulian dan kesempurnaan     -Nya.
5.       Menambah ilmu yang bermanfaat serta mengamalkannya.
6.       Membaca al-Quran sambil mentadaburi (merenungi) dan berusaha memahami makna-makna dan maksudnya.
7.       Takarub kepada Allah Ta’ala dengan amal nafilah setelah mengerjakan amalan fardu.
8.       Senantiasa berzikir kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam segala keadaan, dengan lisan dan hati.
9.       Mendahulukan apa yang dicintai -Nya saat terdapat beberapa kecintaan.
10.    Merenungi nikmat Allah Shubhanahu wa ta’alla yang lahir dan batin serta mempersaksikan kebaikan, kasih dan anugrah -Nya kepada hamba-hamba -Nya.
11.    Meluluhkan hati dihadapan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kefakiran kepada -Nya.
12.    Berkhalwat dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla saat ‘turunnya’ Allah Shubhanahu wa ta’alla di pertiga malam terakhir. Membaca al-Quran pada waktu itu dan mengakhirinya dengan istigfar dan tobat.
13.    Bergaul dengan ahli kebaikan, kesalehan, ikhlas dan pecinta Allah Azza wajalla. Mengambil faedah dari ucapan dan amal mereka.
14.    Menjauhkan segala penyebab kesibukkan yang dapat memisahkan antara hati dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla.
15.    Menghindari over bicara, makan, bergaul dan melihat.
16.    Mencintai saudaranya mukmin seperti mencintai dirinya sendiri dan bermujahadat atas hal itu.
17.    Bersih hati dari kedengkian kepada mukmin dan bersih dari iri, hasad, sombong, ego dan takabur.
18.    Rida dengan pengaturan Allah Azza wajalla.
19.    Bersukur kala mendapat nikmat dan bersabar kala mendapat musibah.
20.    Kembali (bertobat) kepada -Nya bila melakukan dosa.
21.    Memperbanyak amal saleh seperti berbakti, berakhlak baik, menyambung tali silaturahmi dan lain sebagainya.
22.    Menauladani Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam dalam perkara kecil dan besar.
23.    Berjihad fisabilillah.
24.    Baik dalam menjamu.
25.    Amar makruf dan nahi munkar.


[1]Lihat kitab Al-Madarijus S├ólikin  oleh Ibnul Qoyyim III/18-19.
Poskan Komentar