Rabu, 23 April 2014

Keutamaan Tauhid uluhiah



Mengesakan dan menunggalkan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam beribadah merupakan nikmat yang paling mulia dan utama secara mutlak. Keutamaan dan faedahnya tidak terkira dan terbatas. Keutamaan tauhid meliputi kebaikan dunia dan akhirat. Di antara keutamaan itu sebagai berikut:
1.         Ia merupakan nikmat teragung yang dianugrahkan kepada hamba -Nya. Yang menunjuki mereka kepadanya, sebagaimana yang terdapat dalam surat an-Nahl yang dinamai dengan surat an-Ni'am. Allah Azza wajalla mendahulukan nikmat tauhid dari nikmat lain. Allah Shubahanu wa ta’alla menyebut di awal surat an-Nahl:

قال الله تعالى: ﴿ يُنَزِّلُ الْمَلائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُوا أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاتَّقُونِ [النحل: 2] 
"Dia menurunkan para Malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah -Nya kepada siapa yang -Dia kehendaki di antara hamba-hamba -Nya, yaitu: 'Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada -Ku'." (QS.an-Nahl:2)

2.       Ia merupakan tujuan penciptaan jin dan manusia. Firman Allah Shubhanahu wa ta’alla:

قال الله تعالى: ﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ [الذاريات: 56] 
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada -Ku." (QS.ad-Dzariat:56)

3.       Ia merupakan tujuan diturunkannya kitab suci, yang salah satunya al-Quran. Firman Allah -ta’ala-:
4.        
قال الله تعالى: ﴿ الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ * أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ [هود:1 - 2] 
1. Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayat -Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,
2. agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada         -Nya." (QS.Hud:1,2)

5.       Ia merupakan sebab terbesar untuk lepas dari penderitaan dunia dan akhirat serta mencegah sanksi dunia dan akhirat, sebagaimana kisah Nabi Yunus alaihi salam.
6.       Ia mencegah dari kekekalan di neraka, jika di hatinya ia masih ada, meski sebesar biji zarah.
7.       Jika ia sempurna di dalam hati, mencegah dari masuk neraka sama sekali, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Utban, dalam Sahihain, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «فإن الله قد حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله » (متفق عليه)
"Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi yang mengucapkan 'La ilaha illallah', mengharap dengan hal itu wajah Allah."[2]

8.       Memperoleh petunjuk sempurna, dan keamanan yang utuh bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Firman Allah:

قال الله تعالى: ﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمْ الأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُون [الأنعام: 82] 
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS.al-An'am:82)

9.       Ia merupakan sebab mendapatkan rida Allah Shubhanahu wa ta’alla  dan pahala -Nya.
10.    Bahwa orang yang paling berbahagia dengan syafaat Muhamad Salallahu ‘alaihi wasallam adalah yang mengucapkan 'La ilaha illallah' ikhlas dari hatinya.
11.    Bahwa segala amal dan ucapan, baik lahir maupun batin tertangguh penerimaan, kelengkapan dan pahala yang diperoleh pada tauhid. Manakala kuat tauhid dan keikhlasan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, sempurna dan lengkaplah hal itu.
12.    Ia memudahkan hamba melakukan perbuatan baik, meninggalkan kemungkaran dan meloloskannya dari musibah. Orang yang ikhlas kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla pada iman dan tauhidnya, ringan baginya melakukan ketaatan, karena yang diharapnya pahala dan keridaan. Menjadi mudah baginya meninggalkan keinginan nafsu dari kemaksiatan, karena takut dari kemurkaan dan pedihnya siksa Allah Shubhanahu wa ta’alla.
13.    Jika tauhid sempurna dalam hati, Allah Shubhanahu wa ta’alla jadikan dia cinta kepada keimanan, dijadikan indah di hatinya, dan dijadikan benci kepada kekufuran, kefasikan serta kemaksiatan, dan dia digolongkan sebagai orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.
14.    Ia menjadikan hamba ringan menjalani penderitaan dan meremehkan kepedihan, sesuai dengan kesempurnaan tauhid dan iman hamba itu. Menghadapi penderitaan dan kesakitan dengan hati yang lapang, jiwa yang tenang; menerima dan rida dengan takdir -Nya yang menyakitkan.
15.    Ia membebaskan seseorang dari penghambaan kepada makhluk; ketergantungan kepadanya, takut, mengharap dan beramal karenanya.
Itulah kehormatan hakiki dan kemuliaan yang tinggi. Hal itu dengan bertuhan dan menghamba kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Tidak mengharapkan selain -Nya, tidak takut kepada selain -Nya, tidak mengadu kecuali hanya kepadan -Nya dan tidak bergantung kecuali hanya kepada -Nya. Dengan demikian, lengkaplah kebahagiaannya dan menjadi nyata kesuksesannya.
16.    Di antara keutamaannya yang tidak dapat diperoleh oleh apa pun yang lain, bahwa jika tauhid lengkap dan sempurna dalam hati, serta terealisasi sempurna dengan ikhlas yang utuh, ia merubah amal yang sedikit menjadi banyak dan dilipat gandakan pahala pemilikinya tanpa batas.
17.    Allah Shubhanahu wa ta’alla menjamin pemilikinya dengan memeperoleh pertolongan, kehormatan, kemuliaan, petunjuk, jalan kemudahan, diperbaiki keadannya dan tepat dalam ucapan dan perbuatan.
18.    Allah Shubhanahu wa ta’alla mencegah dari pelaku-pelaku tauhid keburukan dunia dan akhirat, mengaruniai mereka kehidupan yang baik, ketenangan baginya dan dengan mengingat -Nya.
Bukti hal itu banyak terdapat dalam al-Quran dan Hadis. Siapa yang merealisasikan tauhid, dia akan memperoleh seluruh keutamaan-keutamaan tersebut dan lebih dari itu. Demikian pula sebaliknya.





[1]Lihat Taisîrul Azizil Hamid hal.36-39 dan Al-Qoulul as-Sadîd oleh Ibnu Sa'di hal.16, bab Fadlut Tauhid Wa Mâ Yukafiru Minaz Zunub dan Ma'ârijul Qobul Fil Hadits 'An Fadhailis Shahadah I/268-271, La ilâha illallah oleh al-Kâtib hal.10-35.
[2]HR.al-Bukhari I/110 dan Muslim I/61.
Posting Komentar