Rabu, 23 April 2014

Hubungan Tauhid uluhiah Dengan Tauhid rububiah



Jenis-jenis tauhid saling berhubungan, sebagiannya berkaitan dengan yang lain. Berikut ini penjelasan hubungan antara tauhid uluhiah dengan rububiah dan sebaliknya:
1.         Tauhid rububiah mengharuskan tauhid uluhiah, maknanya bahwa penetapan tauhid uluhiah mewajibkan penetapan tauhid uluhiah. Siapa yang mengetahui bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah tuhan, pencipta, pengatur urusannya, dan telah menyeru untuk mengibadahi  -Nya, wajib baginya mengibadahi -Nya saja tanpa menyekutukan -Nya. Jika hanya -Dia pencipta, pemberi rizki, pemberi manfaat dan mudarat, mengharuskan untuk mengesakan -Nya dalam ibadah.
2.         Tauhid uluhiah mengandung tauhid rububiah, maknanya tauhid rububiah masuk dalam kandungan tauhid uluhiah. Maka siapa yang beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tanpa menyekutukan -Nya, sudah pasti berkeyakinan bahwa -Dia adalah Tuhan nya, pencipta dan pemberi rezeki, dimana tidak disembah melainkan karena ditanganNya lah manfaat dan mudarat dan pada    Nya lah penciptaan dan segala urusan.
3.         Rububiah merupakan amalan hati, tidak lebih dari itu, karena itu dinamakan pula dengan tauhid al-makrifah wal itsbat (tauhid pengetahuan dan penetapan) atau tauhidul ilmi (tauhid ilmu).
Sedangkan tauhid uluhiah merupakan amalan hati dan badan, tidak cukup hanya hati, bahkan pada prilaku dan amal, yang dimaksudkan untuk Allah  Shubhanahu wa ta’alla semata tanpa menyekutukan -Nya.
4.         Tauhid rububiah semata tidaklah cukup. Yang demikian itu karena tauhid rububiah konsentrasinya ada pada cara pandang. Seandainya itu cukup, tentunya manusia tidak butuh diutus rasul dan diturunkan kitab suci. Tidaklah cukup hanya menetapkan sifat-sifat yang layak bagi tuhan dan bahwa hanya ia semata tuhan pencipta.
Belum menjadi ahli tauhid kecuali jika mempersaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, menetapkan bahwa -Dia adalah yang disembah dan diibadahi semata, dan mengibadahi -Nya sesuai dengan pengetahuan tersebut.
5.         Tauhid uluhiah adalah tauhid yang dibawa para rasul. Tauhid inilah yang menimbulkan perselisihan antara para rasul alaihim salam dan umatnya. Sebagaimana perkataan kaum Nabi Hud alahis salam ketika mengatakan kepada mereka:
قال الله تعالى: ﴿ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ [الأعراف: 59] 
 “…ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain -Nya’….” (QS.al-A’raf:59)

Mereka menjawab:
قال الله تعالى: ﴿ قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا [الأعراف: 70] 
“Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?’....” (QS.al-A’raf:70)

Juga yang dikatakan kaum kafir Quraisy, ketika diperintahkan untuk mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam beribadah,
قال الله تعالى: ﴿ أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهاً وَاحِداً إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ [ص: 5] 
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”(QS.Shad:5)
Adapun tauhid rububiah, mereka tidak mengingkarinya, bahkan Iblis tidak mengingkarinya:
قال الله تعالى: ﴿ قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي [الحجر: 39] 
 “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, …”(QS.al-Hijar:39)

6.         Keduanya jika disebutkan bersamaan, memiliki makna tersendiri, dan jika terpisah mengandung makna lain. Maknanya: jika keduanya disebutkan bersamaan, maka setiap kata sesuai dengan maksudnya, sebagaimana firman Allah ta’ala :
قال الله تعالى: ﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) [الناس: 1- 3] 
1. Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. 2. Raja manusia. 3. Sembahan manusia.” (QS.an-Nas:1-3)

Sehingga makna Rab: Al-Malik Mutasharif (raja yang mengatur). Inilah tauhid rububiah (ketuhanan). Makna Ilah: yang disembah dengan hak, yang berhak diibadahi tanpa selain -Nya. Inilah tauhid uluhiah.
Terkadang keduanya disebut secara sendiri-sendiri sehingga memiliki kesamaan makna, seperti pertanyaan dua malaikat kepada mayat di dalam kubur: “Siapa Tuhan -mu?” Maknanya “Siapa Sesembahan-mu?” juga sebagaimana firman Allah ta’ala,



قال الله تعالى: ﴿ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلاَّ أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ [الحج: 40] 
“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah’….” (QS.al-Haj:40)

Dan firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبّاً [الأنعام: 164] 
“Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah….” (QS.al-An’am:164)

Dan firman -Nya mengenai kekasih Allah Shubhanahu wa ta’all, Nabi Ibrahim:
قال الله تعالى: ﴿ رَبِّي الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ [البقرة: 258] 
"…Tuhan -ku ialah yang menghidupkan dan mematikan’….” (QS.al-Baqarah:258)

Dan sebagaimana firman Allah ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ [النمل: 62] 
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada -Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu ngingati (-Nya).” (QS.an-Naml:62)

7.         Agar tauhid benar dan selamat dunia dan akhirat, hendaklah merealisasikan kedua hal tersebut.

L


[1]Lihat Al-Irsyad hal.21-23.
Poskan Komentar