Senin, 18 November 2013

Bukti Kenabian Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasallam

Bukti Kenabian Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasallam
Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
قال الله تعالى: ﴿ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴿١ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ ﴿٢ سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ﴿٣ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ﴿٤فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ ﴾ [ اللهب: 1-5] 
Binasalah (celakalah) keduatangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa (celaka). Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. [Al-Lahab /111 : 1-5]
MUKADDIMAH
Surat ini terdiri dari lima ayat, dan tergolong ke dalam surat-surat  Makkiyyah tanpa ada perselisihan, karena diturunkan di Mekkah sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam hijrah ke Madinah. Disebut al Lahab, karena diambil dari kalimat lahab, sebagaimana terdapat dalam ayat ketiga surat ini, yang berarti gejolak (api). Surat ini disebut juga al Masad, yang diambil dari kalimat masad, sebagaimana terdapat di ayat terakhir surat ini, yang berarti sabut. Abu Lahab, yang disebutkan dalam surat ini merupakan salah satu paman Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam. Dia bernama Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthtalib (bin Hasyim).  Nama yang sebenarnya adalah Abu ‘Utaibah. Namun dia dikenal dengan sebutan Abu Lahab, karena wajahnya yang menyala (bersinar) bagai api yang bergejolak. Dia banyak menyakit iRasulullahShalallahu ‘alaihiwasallam , amatmembenci lagi banyak mencaci dan mencela (menghina) beliau dan agamanya.
Salah satu kebencian dan permusuhannya terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam dan terhadap dakwah Islam, yaitu sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad, dari Rabi’ah bin Abbad ad Diili Radhiyallahu anhu, dia menuturkan (kisah ketika ia masih kafir sebelum masuk Islam) : Aku melihat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasallam pada masajahiliyyah. Waktu itu, di pasar Dzul Majaz (beliau) menyeru (orang-orang): “Wahai manusia, ucapkanlah ‘Laa ilaaha illallah’, niscaya kalian beruntung.”Orang-orangpun berkumpul mengerumuni Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasallam ,sementara di belakang beliau ada seoranglaki-laki yang wajahnya bersinar (menyala), bermata juling dan memiliki dua jalinan di rambutnya yang berkata : “Sesungguhnya dia adalah shabi’un lagi pendusta.”
Abu Lahab selalu mengikuti kemanapun Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasallam pergi (berdakwah). Maka aku bertanya tentangnya, dan orang-orang mengatakan: “Dia adalah pamannya, Abu Lahab”. Adapun isteri Abu Lahab, yaitu Ummu Jamil; dan namanya adalah Arwa. Ada pula yang menyebutnya al ‘Aura binti Harb bin Umayyah. Dia merupakan saudara perempuan dari Abu Sufyan. Dia menjadi penolong suaminya (Abu Lahab) yang berada di atas kekufuran, pengingkaran dan pembangkangannya (terhadap Islam).

ASBABUN-NUZUL SURAT AL LAHAB
Ketika Allah Shubhanahuwata’alla memerintahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam untuk berdakwah secara terang-terangan, maka beliau pun memulainya secara bertahap dengan mengajak dari kalangan karib kerabat terdekat. Ini beliau lakukan setelah turun firman Allah Shubhanahuwata’alla:

قال الله تعالى: ﴿وَأَنذِرۡ عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ٢١٤﴾ [:] 
Dan berilahperingatankepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. –(asySyu’ara/26 - 214)

Maka Rasulullah pun bergegas melaksanakan perintah Rabb Azza wa Jalla.

Pertama kali Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam mengundang Bani Hasyim dan mereka pun hadir. Bersama mereka ada beberapa orang dari Bani al Muththalib bin Abdu Manaf. Jumlah keseluruhan yang hadir pada saat itu adalah 45 orang. Namun belum lagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam menyampaikan misi dakwahnya, Abu Lahab telah mendahului pembicaraan dalam pertemuan tersebut, dan menggagalkan rencana Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam yang pada saat itu beliau diam dan tidak berbicara apapun. Kemudian untuk kedua kalinya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam mengundang mereka dan langsung menyampaikan dakwahnya. Abu Thalib yang hadir pada pertemuan tersebut menyatakan kesiapannya untuk membantu dan membela apa yang didakwahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam, meskipun dia tetap memegang agama nenek moyangnya (yang mengandung kesyirikan), dan tidak mau melepaskan agama pendahulunya.
Mendengarpembelaan dari Abu Thalib, maka Abu Lahab yang waktu itu juga hadir menyahut sembari berkata: “Demi Allah, ini adalah keburukan. Hendaklah kalian mencegahnya, sebelum dia (Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasallam) mengambil orang-orang selain kalian”. Namun Abu Thalib menimpalinya, "Demi Allah, sungguh kami akan membelanya selama kami masih hidup”.  Setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam memastikan janji Abu Thalib untuk memberikan perlindungan, maka pada suatu hari beliau naik dan berdiri di atas bukit Shafa, seraya berseru:
“Wahai Bani Fihir! Wahai Bani ‘Adi!”. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasallam memanggil suku-suku dari kaum Quraisy sehingga mereka berkumpul. Sampai ada seseorang yang tidak bisa hadir mengutus seorang utusan untuk (hadir), agar mengetahui mengapa (merekadipanggil)? Maka hadirlah Abu Lahab dan orang-orang Quraisy yang lain. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam berkata (kepadamereka): “Bagaimana pendapat kalian, kalau aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah (di balik bukit ini) yang akan menyerang kalian? Apakah kalian mempercayaiku?”
Merekamenjawab,"Ya (kami percaya). Kami tidak mendapatimu kecuali (berkata) jujur,” maka beliau pun berkata kepadamereka: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian terhadap siksa (Allah) yang keras.” (Mendengar seruan itu), Abu Lahab berkata: "Celakalah (binasalah) engkau pada hari ini. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

Maka turunlah ayat
قال الله تعالى: ﴿تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ﴾ [:] 
Celakalah (binasalah) kedua tangan Abu Lahab dan (sungguh) dia akan celaka (binasa)…(hingga akhir surat al Lahab, Pen.).

Demikianlah, sebab diturunkannya surat ini adalah untuk mencela Abu Lahab yang telah mencaci Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam. Begitu pula dengan isterinya yang telah membantu suaminya dalam menentang dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam . Al ‘Aura isteri Abu Lahab, ketika mendengar turunnya surat ini yang memberitakan tentang suaminya dan dirinya, dia pergi mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam . Pada waktu itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam sedang duduk di masjid dekat Ka’bah bersama Abu Bakar Radhiyallahu’anhu. Dia mendatangi dengan membawa sebuah batu. Namun ketika ia berdiri di hadapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam, Allah Shubhanahuwata’alla telah menghilangkan pandangannya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam, sehinggaisteri Abu Lahab ini tidak melihat, selain Abu Bakar Radhiyallahu’anhu saja. Lalu dia berkata,"Hai, Abu Bakar. Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa temanmu (maksudnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam ) mencelaku. Demi Allah, kalau aku mendapatinya, akan aku pukul mulutnya dengan batu ini. Demi Allah, sesungguhnya aku bersyair: 'Orang yang tercela (maksudnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam ) kami tentang, … perintahnya kami tolak, … dan agamanya (ajarannya) kami benci,' kemudian dia pun pergi.
Abu Bakar berkatakepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam : “Wahai, Rasulullah! Tidakkah engkau tahu bahwa dia melihatmu?" Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam menjawab, "Dia tidak melihatku, karena Allah telah menghilangkan penglihatannya dariku.”


PENJELASAN AYAT.

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ [اللهب: 1] 
Binasalah (celakalah) keduatangan Abu Lahab]. Yakni, Abu Lahab akan merugi dan amal usahanya dalam kesesatan, serta dia akan sengsara.

                Dikhususkan penyebutan "kedua tangan" dalam kecelakaan (kebinasaan) ini, karena kebanyakan amal usaha dikerjakan dengan tangannya. Ada pula yang berpendapat, yang dimaksud "kedua tangan" adalah dirinya (yakni diri Abu Lahab), dan ungkapan seperti ini ditemui dalam bahasa Arab.
وَتَبَّ
[dan sungguh dia akan binasa (celaka)]. Yakni, kerugian dan kebinasaannya adalah pasti. Maka ia tidak akan beruntung.
Ibnu Katsir menerangkan, ungkapan pertama (dari ayat di atas) merupakan do’a keburukan (kebinasan atau kecelakaan) atas diri Abu Lahab, sedangkan yang kedua adalah kalimat berita tentang (kebinasaan atau kecelakaan)nya, karenatersirat padanya kata (قَدْ) yang berarti, adanya kesungguhan dan kepastian yang menguatkan, bahwa ungkapan iniadalahkalimatberita.

قال الله تعالى: ﴿مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ﴾ [اللهب:2
(Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan). Yakni, tiada berguna harta yang ada padanya. Dan apa yang ia usahakan, sedikitpun tidak dapat menghindarkan dirinya dari adzab (siksa)–Nya jika telah datang waktunya.
Ibnu Abbas Radhiyallahuanhuma dan lainnya berkata, makna (وَمَا كَسَبَ - “apa yang ia usahakan”), yakni anaknya. Penafsiran seperti itu juga diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu anhuma, Mujahid, Atha, al Hasan dan Ibnu Sirin. Disebutkan pula riwayat dari Ibnu Mas’ud, tatkala Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam menyeru kaumnya untuk beriman, Abu Lahab mengatakan: “Jika apa yang diucapkan oleh kemenakanku benar, maka aku akan menebus diriku dari siksa pada hari kiamat dengan harta dan anakku,” sehingga turunlah ayat tersebut. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir athThabari. Dan pendapat tersebut dikuatkan juga oleh hadits Aisyah Radhiyallahu’anhuma, bahwaRasulullahShalallahu ‘alaihiwasallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ» [رواه النسائي وابن ماجة وصححه الألباني]
Sesungguhnya sebaik-baik apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya adalah termasuk hasil usahanya   [ HR. An Nasai dan Ibnu Majah ]
Ada pula yang berpendapat bahwa makna “apa yang ia usahakan” adalah kedudukan.
قال الله تعالى: ﴿سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ﴾ [اللهب: 3] 

(Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak).
Yakni, (api) yang memiliki nyala, memiliki gejolak dan daya bakar yang dahsyat. Maknanya, Abu Lahab akan masuk dengan sendirinya kedalam api neraka, yaitu Neraka Jahannam. Api neraka tersebut akan mengelilinginya dari segala penjuru. Wa na’udzubillahi min dzalik.
قال الله تعالى: ﴿وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ﴾ [اللهب: 4] 

(Dan begitu pula isterinya, pembawa kayu bakar).
Yakni, isterinya tersebut juga akan masuk ke dalam api neraka bersama Abu Lahab, karena dia telah membantu suaminya di atas kekufuran, melakukan penentangan dan pembangkangan terhadap dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam. Pada hari kiamat ia juga akan membantu Abu Lahab menambah adzabnya di dalam Neraka Jahannam. Oleh karena itu, Allah Shubhanahuwata’alla berfirman:

قال الله تعالى:  ﴿ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ ﴾ [اللهب: 5] 

(Pembawa kayu bakar, yang dilehernya ada tali dari sabut). Yakni dia membawa kayu bakar untuk dilemparkan kepada suaminya agar menambah (siksa api neraka) yang membakarnya. Jadi dia telah disediakan dan disiapkan untuk (menambah siksa) suaminya.
Al Qurthubi menukil perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma, Mujahid, Qatadah dan as Suddi, bahwa makna “pembawa kayu bakar” adalah, berjalan sambil melakukan namimah (menebarkan fitnah di antara manusia). Begitulah keadaan isteri Abu Lahab yang bernama al ‘Aura binti Harb bin Umayyah. Dia adalah wanita yang suka menebarkan fitnah di tengah-tengah manusia, terutama fitnah terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam .
Syaikh as Sa’di rahimahullah menerangkan, makna “pembawa kayu bakar”, bahwa dia (isteri Abu Lahab ini) mengumpulkan dosa-dosa di atas punggungnya. Yakni diumpamakan seperti orang yang mengumpulkan kayu bakar dan telah menyiapkan tali dari sabut di lehernya. Atau, dia membawa kayu bakar ke dalam api neraka untuk suaminya (Abu Lahab), sambil mengalungkan tali dari sabut di lehernya.

PELAJARAN DARI AYAT
1.          Surat ini berisi celaan terhadap Abu Lahab dan isterinya, karena keduanya memusuhi Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam dan menentang dakwahnya.
2.          Berlimpahnya harta dan banyaknya anak, tidak dapat memberi faidah dan tidak akan dapat mencegah (seseorang) dari api neraka bagi orang yang kufur kepada Allah Shubhanahuwata’alla.
3.          Dalam surat ini terdapat salah satu tanda kebesaran Allah Shubhanahuwata’alla yang nyata, karena (pada saat) Allah Shubhanahuwata’alla menurunkan surat ini Abu Lahab dan isterinya tidak binasa (seketika). Namun Allah Shubhanahuwata’alla mengabarkan, keduanya akan mendapat adzab dalam api neraka dan itu pasti. Itu berarti, keduanya tidak mungkin akan masuk Islam, sejak turunnya surat ini sampai mereka berdua mati. Hal itu terjadi, dan sesuai dengan yang diberitakan Allah Shubhanahuwata’alla. Sebagian ulama mengatakan, dalam surat ini terdapat mu’jizat yang nyata dan dalil yang jelas perihal kenabian (Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasallam). Karena, sejak turunnya firman Allah Shubhanahuwata’alla yang artinya "Kelak dia (Abu Lahab) akan masuk ke dalam api neraka yang bergejolak, dan begitu juga isterinya pembawa kayu bakar. Di lehernya ada tali dari sabut’ yang memberitakan bahwa keduanya sengsara dan tidak beriman- (ternyata) keduanya benar-benar tidak beriman. Keduanya tidak beriman, baik secara lahir maupun batin. Mereka juga tidak beriman, meskipun secara sembunyi-sembunyi, apalagi terang-terangan. Fakta ini merupakan bukti terkuat yang bersifat batin mengenai kenabian (Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasallam) yang nyata.”. Wallahu a’lam.

Poskan Komentar