Kamis, 27 September 2012

Menegakkan Benang Basah

Menegakkan Benang Basah      

AlhamduliLlah, rakyat Iraq luput dari bencana. Hampir saja rakyat Iraq menderita lagi. Hasil pemeriksaan team pemeriksa Dewan Keamanan tidak mendapatkan apa-apa yang mencurigakan dalam Gedung Departemen Pertanian Iraq. Lalu kalau memang tidak ada apa-apa dalam gedung itu, buat apa permainan yang berbahaya itu? Untuk apa Saddam Husain membuat sensasi itu?   Melalui pertumpahan darah, Saddam Husain berhasil merebut tampuk kekuasaan di Baghdad. Pada 17 Juli 1968 Saddam Husain bersama Ahmad Hasan Bakir berhasil menyingkirkan Abd. Rahman Arif dengan kudeta berdarah. Setelah Bakir meninggal karena serangan jantung tahun 1976, Saddam Husain menjadi penguasa tunggal Iraq, sampai sekarang. Saddam Husain memerintah dengan partai tunggal, Partai Ba'ats, yang berhaluan sosialisme kiri. Ba'ats dari akar kata ba, 'ain, tsa artinya bangkit.    
Setelah empat tahun menjadi penguasa tunggal Iraq, Saddam melihat kesempatan untuk menaikkan pamornya dalam kalangan bangsa-bangsa Arab. Yaitu tahun 1980 Saddam menyerbu Iran, yang waktu itu Iran sedang berbenah diri, sesudah Imam Khomeini berhasil menjatuhkan Syah Iran. Saddam mengira Iran adalah makanan empuk, karena Iran yang sedang berbenah diri itu belum sempat memperkuat angkatan perangnya. Lalu buat apa Saddam mencari popularitas menaikkan pamornya?    
Negara-negara Arab potensial bersatu padu melawan Israel. Celakanya, yang paling penting bukan persatuan itu, melainkan siapa yang akan memimpin persatuan melawan Israel itu. Ada tiga negara Arab yang potensial, yaitu Mesir, Syria dan Iraq. Setelah Mesir membina hubungan diplomatik dengan Israel, Mesir dikucilkan. Maka tinggallah dua negara yang bersaingan dalam kepemimpinan dunia Arab: Iraq dan Syria. Dalam semangat rivalitas inilah, tentunya akan mudah dipahami, mengapa Syria, yang juga dengan partai tunggal Partai Ba'ats, memihak Iran dalam perang Iraq-Iran dan berdiri dipihak pasukan multinasional dalam perang teluk.    
Dalam perang delapan tahun melawan Iran itu (1980 - 1988), Iraq babak belur, walaupun dibantu persenjataan modern oleh Amerika dan Uni Sovyet. Uni Sovyet membantu Iraq karena ideologi yang seiring. Amerika juga membantu Iraq, karena secara ideologis Iran adalah lawan Amerika, lagi pula Syah Iran, yang ditumbangkan oleh Imam Khomeini, adalah anak mas dan sekali gus pion dari Amerika.    
Karena babak belur itu Iraq tentu saja turun pamornya. Maka mulailah Saddam Husein menegakkan benang basah yang pertama. Pada hari Kamis 2 Agustus 1990 Saddam melancarkan Blitzkrieg atas Kuwait. Betul-betul Blitzkrieg, karena hanya membutuhkan waktu satu hari. (Blitz = kilat, Krieg = perang). Alasan yang nyata Iraq mengapa menyerang Kuwait adalah alasan ekonomis, mengklaim daerah minyak dalam wilayah Kuwait. Namun alasan yang tersirat, Iraq berusaha menaikkan pamornya yang telah turun itu. Inilah yang dimaksud dengan menegakkan benang basah. Benang kalau sudah terlanjur basah sangat sukar ditegakkan. Rupanya nenek moyang kita pencipta peribahasa itu tajam juga pengamatannya. Penyerangan atas Kuwait merupakan blunder, kesalahan yang bodoh. Alih-alih mau menegakkan benang yang sudah basah, membawa dampak yang sangat serius.    
Amerika Serikat yang begitu bernafsu menguasai Asia Kecil yang kaya minyak itu melihat kesempatan. Selama ini strategi Amerika hanya terbatas menciptakan Amerika Kecil di Asia Kecil untuk menanamkan kukunya. (Saya tidak pakai istilah Timur Tengah. karena itu berarti secara metaforis kita memenggal kepala kita sendiri, yaitu kepala kita letakkan di Amerika, kaki kita berpijak di Indonesia). Tentu kita semua sudah tahu siapa Amerika Kecil ini, yaitu Israel. Lalu dengan penyerangan Iraq atas Kuwait itu terbukalah pintu bagi Amerika, untuk terjun dalam lapangan. Melalui formalitas Dewan Keamanan, Amerika mempunyai alasan menjadi pahlawan pembela Kuwait terhadap kezaliman Iraq. Yang juga sekali gus pahlawan pelindung Arab Saudi dari kemungkinan serbuan Iraq. Arab Saudi tentu mau saja, biarlah orang-orang asing itu tewas dalam medan laga untuk melindungi negaranya. Arab Saudi mengeluarkan dana untuk itu? Tidak apa-apa,  itu artinya Raja Fahd ibarat membayar tentera sewaan, katakanlah Legiun Asing yang berperang untuk kerajaannya. Itukan terhormat! Maka pecahlah perang teluk.    
Setelah Saddam terdesak dalam perang teluk ia mulai lagi menegakkan benang basah yang kedua. Mengibarkan panji Islam. Memaklumkan perang suci, jihad fie sabieli Llah. Mana mungkin, Saddam yang begitu fanatik dengan Partai Ba'atsnya yang berideologi sosialisme kiri itu, lagi pula menyerang Republik Islam Iran, akan betul-betul secara ikhlas mengibarkan panji Islam. Dalam keadaan tersesak dan terdesak Saddam ingin memanfaatkan emosi keagamaan Ummat Islam sedunia. Hasilnya nihil, benang yang sudah terlanjur basah itu tidak dapat ditegakkan lagi.    
Maka untuk ketiga kalinya Saddam menegakkan benang basah. Membuat insiden dengan team pemeriksa Dewan Keamanan. Yaitu dengan menghalangi pemeriksaan terhadap Gedung Departemen Pertanian Iraq. Alasannya, itu melanggar kedaulatan Iraq. Kedaulatan apa yang akan dilanggar. Memang kedaulatan Iraq sudah dilanggar sejak Iraq kalah perang, sejak Iraq menandatangani persyaratan gencetan senjata. Semua persyaratan itu melanggar kedaulatan Iraq. Siapa suruh menyulut perang. Baru empat tahun memegang tampuk kekuasaan Iraq, Saddam sudah menyerbu Iran. Baru dua tahun berhenti perang dengan Iran, Saddam menyerbu Kuwait. Fahal 'asaytum lin tawallaytum an tufsiduw fi l-ardh? Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi? (S.Muhammad, 22).    
Setelah perang teluk Amerika berhasil masuk secara langsung ke Asia Kecil. Artinya Amerika tidak memerlukan Amerika Kecil lagi. Itulah sebabnya Amerika memprakarsai perundingan damai Arab-Israel. Pamor Amerika dapat naik sebagai pahlawan perdamaian. Walhasil perang teluk  yang disulut oleh Iraq dengan menyerbu Kuwait menguntungkan Amerika, menyengsarakan rakyat Iraq. Kita mengucap syukur, rakyat Iraq luput dari serangan yang sudah dipersiapkan oleh polisi dunia melalui formalitas Dewan Kemanan. Bush tidak jadi memanfaatkan ulah Saddam yang menegakkan benang basah untuk ketiga kalinya itu. Bush tentu saja sangat berambisi untuk mendapatkan alasan agar dapat menyerang Iraq. Dengan menyerang Iraq, Bush akan naik pamornya dalam ajang persaingan untuk menjadi presiden Amerika Serikat dalam masa jabatan kedua kalinya. AlhamduliLlah Bush tidak berhasil memanfaatkan kesempatan menyerang Iraq itu. Sekali lagi kita ucapkan alhamduliLLah, rakyat Iraq luput dari musibah penghancuran untuk kedua kalinya. Sekali lagi alhamduliLlah. WaLlahu a'lamu bishshawab.   
Poskan Komentar