Kamis, 27 September 2012

Menabur Awan

Menabur Awan 

Suatu Serendipitas Menabur awan adalah terjemahan dari seeding the clouds ataupun het enten van woken. Kedua ungkapan asing itu biasanya diterjemahakan dalam bahasa Indonesia dengan ungkapan  membuat hujan. Terjemahan ini dapat menyesatkan, lebih-lebih bagi mereka yang begitu kagum bercampur fanatik, yang hampir-hampir mengkultuskan iptek. Bagi yang tidak begitu mengetahui seluk-beluk hujan buatan itu dikiranya seenaknya saja hujan itu dapat dibuat.    
Hujan itu merupakan bagian dari apa yang disebut dalam dunia ilmiyah dengan ungkapan  daur hidrologik. Daur adalah suatu yang melingkar. Hidrologi adalah ilmu tentang seluk beluk tabiat air. Secara gampangnya, daur hidrologik itu dapat dijelaskan seperti berikut. Air hujan turun ke bumi, ada air yang langsung mengalir di atas permukaan bumi, yang disebut sungai. Ada yang masuk meresap dalam tanah, disebut air tanah. Di mana mungkin air dalam tanah mengalir membentuk sungai dalam tanah, dan yang sempat muncul di permukaan tanah disebut mata air, yang menjadi hulu sungai. Sungai- sungai di atas tanah bersama-sama dengan sungai-sungai di bawah tanah mengalirkan air ke laut. Di tengah jalan aliran air itu di beberapa tempat berhenti mengalir, untuk beristirahat sejenak di danau-danau. Air di laut di danau dan di sungai-sungai menguap ke udara, karena dipukul oleh radiasi matahari. Di udara air itu berwujud awan. Dari awan ini turunlah hujan. Demikianlah daur hidrologik itu melingkar terus.   Bagaimana proses terbentuknya hujan dari awan merupakan masalah yang musykil, memusingkan para pakar. Pasalnya ialah walaupun suhu awan sudah jauh di bawah titik beku, air masih berbentuk uap. Seharusnya dalam suhu yang rendah itu sudah terbentuk butir-butir kristal es  dari awan itu. Seorang pakar bernama John Aitken berteori bahwa kristal es baru dapat terbentuk apabila ada zat yang halus sekali apakah debu atau materi lain, yang menjadi inti butir- butir kristal itu. Tanpa zat halus itu tak mungkin terbentuk titik-titik kristal itu. Bermodalkan teori ini sejumlah pakar mengadakan penelitian dari tahun ke tahun tanpa hasil. Macam-macamlah zat yang dicoba untuk ditaburkan di atas awan. Tentu saja menaburnya dari atas kapal terbang.   Vincent Joseph Schaever mengadakan penelitian tidak pakai kapal terbang dan tidak berurusan dengan awan di alam bebas, karena biayanya mahal. Ia membuat simulasi, yaitu membuat contoh dengan meniru keadaan yang sebenarnya. Schaever mengambil ruang dalam lemari es sebagai simulasi angkasa di atas sana yang dingin. Sebagai simulasi awan ia mempergunakan hembusan napasnya ke dalam lemari es.  Sudah banyak zat yang dicobanya, sampai-sampai kepada mentega. Tidak ada yang berhasil. Rupanya semua usahanya seperti sia-sia.    
Lalu pada suatu hari sedang asyik-asyiknya Schaever meneliti didepan lemari es simulasinya itu, seorang kawan datang mengajaknya makan siang. "Tinggalkan dulu pekerjaanmu yang melelahkan itu, lebih baik kita pergi mengisi perut." Schaever menurut, dan sebelum pergi ia meninggalkan lemari esnya dalam keadaan terbuka, karena suhu cuaca sedang menurun. Dengan demikian suhu dalam ruang simulasi turut turun suhunya. Setelah kembali ke laboratoriumnya sehabis makan, dengan kecewa ia mendapati suhu udara bebas sedang naik. Suhu ruang simulasinya juga ikut naik tentunya, sehingga penelitian tidak dapat dengan segera dimulainya. Harus menunggu dahulu mesin refrigerator bekerja menurunkan suhu ruangan simulasi. Schaever berpikir cepat, teringat bahwa di lemari es yang lain tersimpan es kering.    
Ingat jangan dikacaukan dengan es krim. Es kering adalah CO2 yang padat, jauh lebih dingin dari es biasa. CO2 ini zat istimewa, tidak pernah dalam phase cair, dari padat langsung jadi phase gas. Itulah sebabnya disebut dry ice, es kering, karena tak pernah basah. Schaever memasukkan es kering ke dalamnya. Dengan demikian ia dapat menghemat waktu. Secara kebetulan bersamaan dengan masuknya es kering itu ia mengeluarkan napas. Ia segera membelalak. Segala jerih payahnya selama ini terbayar. Ia menyaksikan terjadinya hujan di dalam ruangan simulasi itu. Tentu saja penemuan yang tak disangka-sangka ini belum final, karena baru pada simulasi.  Harus dicoba di alam bebas. Awan ditabur dengan es kering dari atas kapal terbang. Dan ternyata memang turun hujan betul-betul. Tentu dicoba beberapa kali mengubah awan menjadi hujan dengan jalan menaburnya. Dan inilah yang disebut dengan seeding the clouds, menabur awan. Schaever berhasil dalam penelitiannya tetapi tidak dengan sengaja. Inilah yang disebut dengan serendipity, discovery by accident, penemuan yang tak disangka- sangka. Istilah itu diciptakan oleh Horace Walpole, seorang penulis terkenal, dalam tahun 1754. Konon diambil dari nama kota dalam dongeng Sindbad the Sailor. Pelaut itu menemukan kota Serendib by accident. Saya usulkan untuk menobatkan istilah ini menjadi bahasa Indonesia, serendipitas. Sebab belum ada bahasa Indonesianya. Dalam kamus hanya dijelaskan serendipity, penemuan tak disangka- sangka.    
Rupanya teori inti dari Aitken ini akan gugur. Hasil serendipitas Schaever menunjukkan tidak perlu ada inti. Cukup dengan es kering. Namun Bernard Vonnegut tanpa disengaja (again by accident) suatu hari ia melihat titik air di udara bertuliskan Pepsi Cola. Sebuah pesawat terbang dalam rangka reklame Pepsi Cola, membuat tulisan asap nama minuman itu di udara. Vonnegut melihat bahwa terbentuk gerimis hujan dari asap yang membuat tulisan nama minuman itu. Dari peristiwa itu Vonnegut berkesimpulan teori inti Aitken tidak gugur. Vonnegut lalu mendalami teori kristal es bersisi enam dari seorang pakar bernama Findeisen. Vonnegut berkesimpulan bahwa inti itu di samping halus harus memenuhi bentuk sisi enam. Akhirnya ia mendapatkan zat kimia yang memenuhi persyaratan itu, iodida perak. Zat ini dicoba Vonnegut untuk menabur awan, dan hujan turun.    
Sampai sekarang ini kedua cara itu dipakai untuk menabur awan, dengan es kering  dan dengan iodida perak. Tentu saja penelitian dilanjutkan terus untuk mendapatkan zat penabur awan yang lebih murah harganya. Penemuan itu oleh keduanya didapatkan tidak dengan sengaja. Schaever tidak sengaja dalam menabur es kering, dan Vonnegut tidak sengaja melihat Pepsi Cola untuk tetap bertahan pada teori inti dan mendapatkan iodida perak untuk menabur. Jadi kesimpulan sementara dari hasil serendipiti Shaever dan Vonnegut itu seperti berikut ini. Kalau suhunya cukup rendah, pembentukan kristal es tidak perlu pakai inti. Kalau tidak cukup rendah harus pakai inti. Berfirman Allah dalam S.Al Baqarah 212 dan S.An Nur 38: Wa Llahu yarzuqu man yasyaau bi ghayri hisab, artinya:  Allah memberi rezeki kepada siapa yang mau (untuk mendapatkan rezeki), dengan tidak disangka-sangka. Schaever dan Vonnegut telah mendapatkan rezeki yang tak disangka-sangka. Allah berkehendak memberikan rezeki kepada keduanya, karena keduanya berkeinginan dan berikhtiar bersungguh-sungguh mendapatkan rezeki yang dalam hal ini rezeki itu berwujud ilmu pengetahuan. Mungkinkah ayat tersebut berlaku untuk Schaever dan Vonnegut? Keduanya bukan orang Islam! Allah adalah Ar Rahman, Maha Pengasih. Allah dengan sifat RahmanNya itu tidak membeda-bedakan hamba sahayaNya di dunia ini, apakah ia Islam, atau bukan, bahkan yang ingkar kepadaNya sekalipun. Siapa saja yang mencari rezeki termsuk ilmu dengan bersungguh-sungguh, Allah akan memberikan. Karena Allah adalah Sumber dari segala-galanya, antara lain Sumber rezeki dan Sumber ilmu. WaLlahu a'lamu bishshawab  
Posting Komentar