Kamis, 27 September 2012

Kemasan, Kejiwaan dan Sekat

Kemasan, Kejiwaan dan Sekat

Obat-obat paten lebih mahal dari obat-obat generik. Penyebabnya yang utama adalah kemasan. Dengan kemasan ongkos produksi bertambah, sehingga harga jual lebih tinggi, mahal. Demikian pula barang dagangan yang lain, kemasan dibuat untuk menarik pembeli. Rumah-rumah pelacuran dikemas dengan label panti hiburan, untuk mendapatkan izin. Dalam hal ini ada istilah yang khas, pelacuran berselubung.
Itulah yang trjadi dalam kehidupan sehari-hari. Yang asli acapkali sengaja disembunyikan di balik kemasan. Oleh sebab itu perlu betul berhati-hati dalam hidup ini. Ada nasihat orang-orang tua dahulu, yang masih relevan hingga kini. Kalau ingin melihat keaslian wajah seorang gadis, lihatlah pada waktu baru bangun tidur, pada waktu sedang menuju sumur atau pancuran untuk mandi.
Ilmu jiwa menurut Al Quran, yang tentu saja berbeda dengan ilmu jiwa menurut Sigmund Freud, atau yang lain-lain, membuat klasifikasi kejiwaan dalam tiga tingkatan. Tingkat yang paling rendah adalah nafsun ammarah (S.Yusuf,53), tingkat menengah nafsun lawwamah (S.Al Qiyamah,2) dan tingkat tertinggi adalah nafsun muthmainnah (S.Al Fajr 27). Adapun nafsun ammarah adalah suatu kejiwaan (nafsun) yang bringas, yang primitif, yang merusak, yang umumnya menyangkut kepentingan biologis. Nafsun ammarah inilah yang menyebabkan malaikat protes ketika Allah bersabda kepada para malaikat: innie jaa'ilun fi l-ardhi khalifah, sesungguhnya akan kujadikan pengelola di atas bumi. Maka para malikat dalam nada protes menjawab: ataj'alu fiehaa, man yufsidu fiehaa, wa yasfiqu ddimaa, apakah Engkau menjadikan (manusia sebagai khalifah) di atasnya, yang merusak dan menumpahkan darah?
Dalam kehidupan sehari-hari kejiwaan jenis terendah ini dikenal dengan ungkapan hidup untuk makan. Dalam bahasa Indonesia istilah nafsu mempunyai konotasi yang negatif. Asal muasal konotasi negatif ini dari kejiwaan nafsun ammarah tersebut. Menurut bahasa Al Quran pengertian nafsun tidaklah berkonotasi negatif. Nafsun lawwamah adalah suatu kejiwaan yang dapat mengontrol diri untuk melawan, meredam, mengalahkan nafsun ammarah. Seorang pribadi dengan kejiwaan lawwamah ini, tidak mencuri bukan karena takut kepada polisi, melainkan karena kesadaran bahwa mencuri itu perbuatan jahat. Nasun lawwamah adalah sikap kejiwaan yang telah penuh dengan kesadaran. Adapun tingkat kejiwaaan yang tertinggi, nafsun muthmainnah, adalah suatu pribadi dengan sikap kejiwaan yang tenang, ibarat laut yang dalam. Nafsun ammarah sudah tidak dapat menembusnya ke atas. 
Nafsun ammarah tidak boleh diberi lahan untuk bertumbuh. Harus diciptakan lingkungan yang tidak memungkinkan nafsun ammarah ini bergerak. Akan tetapi dalam kehidupan kampus malahan nafsun ammarah ini diberi lahan untuk bergerak. Yaitu dikemas dengan apa yang kita kenal dengan Mapram, Opspek. Adapun kemasan yang berwujud opspek ini tampaknya bagus, akan tetapi apa yang ada dalam kemasan adalah lahan untuk nafsun ammarah, kebringasan, keprimitifan.

Setiap orang, setiap kelompok, mempunyai kebanggaan tentang identitas kelompoknya. Apakah kelompok itu suatu bangsa, akan mempunyai kebanggan nasional. Apakah itu kelompok pakar, akan mempunyai kebanggaan disiplin ilmu. Namun kebanggaan itu, apakah itu kebanggaan nasional, ataupun kebanggaan disiplin ilmu, jangan sampai kebanggaan itu menjadi sekat. Kebanggaan nasional tidak boleh menjadi sekat di antara bangsa-bangsa, karena bangsa-bangsa itu bersaudara dalam ruang lingkup kemanusian. Demikian pula kebanggaan disiplin ilmu itu tidak boleh menjadi sekat di antara disiplin-disiplin ilmu, karena disiplin-disiplin ilmu itu bersaudara dalam ruang lingkup keilmuan.

Dalam pembangunan memang penting iptek. Tetapi dengan iptek saja tujuan pembangunan tidak akan dicapai. Sebab yang dibangun bukanlah melulu bangunan-bangunan fisik. Adapun bangunan-bangunan fisik yang memerlukan iptek itu, hanyalah tujuan antara. Tujuan pembangunan adalah membangun manusia yang beradab, yang utuh. Dengan iptek saja tidak mungkin sampai kepada tujuan tercapainya manusia yang beradab dan utuh. Perlu disiplin ilmu yang lain, ya kesehatan, ya ekonomi, ya pertanian, ya sosial, ya politik, ya hukum, ya budaya, ya dan lain-lain. Semuanya penting, semuanya membentuk satu sistem. Tidak boleh ada sekat di antaranya.
Apa yang terjadi dalam tragedi Kampus Unhas Tamalanrea yang sangat memalukan, sangat memilukan, sangat disesalkan, adalah berpangkal dari adanya lahan bagi nafsun ammarah yang dikemas dengan opspek, dan dari adanya sekat di antara disiplin-disiplin ilmu, adanya dinding-dinding di antara fakultas-fakultas.
Maka untuk menghindari terulangnya kembali tragedi itu, opspek harus dihapus, sekat harus dihilangkan. Secara teknis dalam tahun pertama dibuat struktur gugus untuk menghilangkan sekat. Para mahasiswa dari bermacam-macam disiplin ilmu dicampur baur, tidak ada sekat. Struktur gugus dipertahankan hingga penyajian materi universitas, sebagai orientasi pengenalan kampus. Kemudian struktur gugus ini dilanjutkan dalam semester selanjutnya. Mata Kuliah Dasar Umum. Dalam MKDU ini para mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dicampur, terjadi sosialisasi di antara para mahasiswa dari berbagai jenis disiplin ilmu. Kalau perlu dalam kurikulum diberikan semacam Studium Generale atas dasar kijken tussen de bomen, melihat di celah-celah pohon. Setiap disiplin ilmu saling melihat di antara celah-celah. 
Akhirulkalam marilah kita simak Firman Allah: -- FattaquLlaaha washlihuw dzaata baynikum, Maka taqwalah kepada Allah dan benahilah, perbikilah bengkalai yang ada di antara kamu. (S. Al Anfaal, 1). WaLlahu a'lamu bishshawab.
Posting Komentar