Kamis, 27 September 2012

Air Bah, Erosi dan Sedekah

Air Bah, Erosi dan Sedekah

Masih ingat Daur Hidrologik? Air bah dan erosi ini berhubungan dengan daur tersebut. Kalau dalam pembicaraan mengenai penaburan awan, bagian daur itu menyangkut perjalanan air dari awan turun ke bumi, maka dalam hal ini bagian daur itu menyangkut perjalanan air di atas permukaan bumi. Pembagian kwantitas air yang masuk ke dalam tanah dengan air yang di atas pemukaan tanah, tergantung dari keadaan permukaan bumi. Jika lapisan tanah tebal dan banyak akar-akar pepohonan di dalamnya, lebih banyak air yang masuk meresap ketimbang air yang tertinggal di atas permukaan tanah. 
Apabila air di atas tanah sedikit yang tertinggal, air yang mengumpul di sungai-sungai mengalir dengan jinak. Tetapi sebaliknya apabila lapisan tanah tipis, lagi pula di dalamnya tidak terdapat akar pepohonan yang mampu meresapkan dan menahan air, maka air yang tertinggal di atas permukaan bumi menjadi banyak. Jika terjadi hal yang demikian itu, air tidak hanya menempati lekuk dan alur sungai, melainkan melimpah dan menyapu secara menyeluruh. Itulah yang disebut banjir. Pada dataran rendah di hilir, banjir itu berwujud genangan air dan di udik di tempat yang miring utamanya di lereng-lereng gunung, air itu mengalir menjadi menjadi ganas, dan itulah yang disebut air bah. Jadi supaya hujan itu membawa Rahmat Allah, lapisan tanah harus tebal, dan harus banyak akar pepohonan di dalamnya. Itulah gunanya hutan. Daun-daunan yang gugur menjadi busuk menjadi bunga-tanah. Itu mempertebal lapisan tanah. Hutan yang lebat menghasilkan bunga-tanah yang tebal dan banyak akar di dalamnya. Walhasil hutan lebat mencegah banjir. Itu di udik, di pegunungan yang berhutan.
Bagaimana kalau di hilir? Pada umumnya di hilir terdapat hutan jenis lain, hutan rekayasa, hutan yang dibangun oleh teknologi, Yaitu hutan yang bukan dari pepohonan, melainkan hutan dari bangunan-bangunan menjulang, dengan akar-akarnya berupa tiang-tiang pancang dari beton, ataupun dari jenis cakar ayam. 
Permukaan tanah ditutupi pelataran-pelataran parker, jalan-jalan beraspal, ataupun trotoar dari batu. Apa hasilnya jika dilihat dari segi berwawasan lingkungan? Pembagian air hujan yang meresap ke dalam tanah dengan yang tertinggal di atas permukaan tanah, sebaliknya dari di udik. Lebih banyak di atas tanah, karena air tidak diberi kesempatan masuk meresap ke dalam. Artinya kalau turun hujan lebat akan terjadi banjir. Maka digalilah kanal, seperti misalnya di kota Makassar ini untuk menanggulangi luapan air hujan yang disebut banjir itu. Hasilnya? Tergantung
kalkulasi, hitung menghitung dari para pakar berdasarkan perkiraan curah hujan yang langsung dan banjir kiriman hujan dari hulu dan terobosan air pasang dari laut. Kalau Allah murka kepada penduduk kota karena terlalu banyak melakukan maksiat, maka Allah akan menurunkan hujan lebat di hulu bersamaan dengan hujan lebat di kota, bersamaan dengan pasangnya air laut di bulan penuh, maka kanal yang digali itu percayalah tidak akan mampu menampung limpahan air itu. Tidak banjirpun kalau air kanal tidak mengalir dengan baik, akan menjadi semacam laut hitam, seperti di belakang salah satu panti asuhan di Pannampu. Istilah laut hitam ini saya pinjam dari istilah sindiran penduduk di sekitar tempat itu.
Jadi dilihat dari segi berwawasan lingkungan, maka di udik harus lebat hutan pepohonan, tetapi sebaliknya di hilir harus dikurangi pertumbuhan hutan rekayasa teknologi. Kalau di udik hutan-hutan dibabat secara liar apakah itu berupa lahan perkebunan secara liar, ataupun dibabat dengan sah melalui jalur hukum berupa HPH untuk industri kayu, maka hasilnya adalah banjir di udik dan banjir di hilir. 
***
Erosi berhubungan dengan banjir yang berwujud air bah di udik. Gunung-gunung yang hampir gundul, menghampiri bahkan sudah mencapai keadaan kritis, keadaan pemukaan bumi menyedihkan. Bunga-tanah berkurang, akar-akar berkurang, akibatnya lereng gunung dikikis air yang mengalir. Pengikisan tanah oleh air mengalir dengan ganas inilah yang disebut erosi. Pengikisan yang terus menerus menghabiskan lapisan tanah di lereng-lereng gunung. Tanah-tanah ini dibawa air ke sungai-sungai yang menyebabkan pendangkalan sungai-sungai di hilir.
Di dalam Al Quran pengikisan air yang menggundulkan permukaan bumi dan yang tertinggal hanyalah batu karang yang licin, dinformasikan sebagai bahan kiasan. Firman Allah menyangkut erosi itu tidaklah difokuskan benar kepada pengikisan tanah, melainkan dikiaskan kepada erosi amal sedakah. Adapun erosi pada permukaan bumi itu hanyalah sekadar berupa penjelasan bandingan dari erosi amal sedekah seseorang. 
Berirman Allah dalam S. Albaqarah, 264: Yaa ayyuha lladziena aamanuw laa tubthiluw shadaqaatikum bi lmanni wa l-adzaa kalladzie yunfiqu maalahu riyaa nnaasi wa laa yu'minu bi Llaahi wa lyauwmi l-aakhiri, famatsaluhu kamatsali shafwaanin 'alayhi turaabun fa ashaabahu waabilun fa tarakahu shaldan laa yuqdiruwna 'alaa syayin mimmaa kasabuw artinya, Hai orang-orang beriman, anganlah kamu batalkan amal sedekahmu, dengan cara menyiarkan (kepada umum) dan melukai perasaan (yang diberi sedekah), seperti cara menyumbang dengan penampilan (riya) dari orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Adapun cara yang demikian itu ibarat batu karang licin yang di atasnya terdapat lapisan tanah diguyur oleh curahan hujan yang lebat yang memberikan bekas tanah hanyut dan tinggallah batu karang licin yang gundul, maka demikian pulalah keadaan amal sedekahnya hilang tidak ada yang tinggal.
Sedikit catatan tambahan. Adapun kebiasaan mengumumkan di masjid-masjid nama-nama penyumbang masjid menjelang shalat Jum'at, itu bukanlah termasuk riya, karena tujuannya bukanlah untuk penampilan, melainkan sebagai pertanggung-jawaban keuangan dari panitia atau pengelola masjid. Lain hal misalnya ada Dharma Wanita yang menyumbang panti asuhan, kemudian di-shooting untuk disiarkan di TV, itulah yang termasuk pengertian al mannu, menyebut-nyebut, menyiarkan. WaLlahu a'lamu bishshawab.
Posting Komentar